Refleksi Beasiswa: Pengurus LPDP UI

Refleksi Beasiswa LPDP dari seorang dokter daerah terpencil yang menimba ilmu di Jakarta dan menjadi pengurus LPDP UI.

Dua semester sudah saya menjadi awardee LPDP, istilah bagi penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) RI. Selama satu tahun ini pula saya terlibat aktif dalam berbagai kegiatan LPDP, baik itu LPDP UI (Universitas Indonesia) maupun Mata Garuda LPDP.

Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al-Muhajirin di Jakarta Timur, menjadi lokasi pembuka kegiatanku bersama Mata Garuda pada tanggal 22 Februari 2019. Nama kegiatannya yakni “Massive Action 2.0” LPDP Mengabdi. Kegiatan diadakan secara serentak pula di berbagai sekolah di 27 Provinsi di Indonesia. Saya menjadi inspirator pengenalan profesi dalam kegiatan ini. Para pelajar SDIT diperkenalkan berbagai profesi dimulai dari presiden, pilot, dokter, tentara, sampai ke pekerjaan “zaman now” seperti “YouTubers” dan lain-lain. Adik-adik pelajar sangatlah aktif dalam berinteraksi dalam presentasi ini. Begitu mendengarkan kata presiden, kelas pun langsung ramai. Adik-adik pelajar secara spontan menyebutkan nama calon presiden idolanya masing-masing. Maklum, ketika itu adalah masa sebelum Pemilihan Presiden. Setiap kelas juga dipilih beberapa anak yang bercerita seandainya mereka seorang Presiden RI. Ada beberapa hal yang sangat menarik dalam pengenalan profesi ini kepada adik-adik pelajar. Ternyata anak “zaman now” lebih tertarik menjadi “YouTubers” dibandingkan menjadi dokter maupun pilot. Apapun pekerjaan ataupun profesinya kelak, apabila dijalani dengan tekun tentunya akan bermanfaat bagi masyarakat, yang penting halal. Kegiatan ini secara umum berjalan dengan lancar. Panitia, guru dan pelajar pun semuanya tampak terhibur dan puas.

Meskipun saya non-Muslim, namun saya dipercaya menjadi Ketua Panitia buka puasa bersama dalam dua kegiatan LPDP tahun 2019. Yang pertama adalah Buka Puasa Bersama adik-adik pelajar di Balai Warga RW 03 Paseban, Jakarta Pusat tanggal 11 Mei 2019. Selain para pelajar, panitia juga mengundang para pengurus RW 03 Paseban dan seorang ustaz untuk memberikan “kultum” bagi hadirin buka puasa bersama ini. Paseban Mengajar adalah kegiatan rutin para awardee LPDP UI dan para relawan dalam mengajar anak-anak TK dan SD tentang mata pelajarannya setiap hari Jumat malam di Paseban. Kebetulan pula saya yang dipercaya sebagai PIC (Person in Charge) Paseban Mengajar sejak tahun ini. Mengajar adalah suatu pengalaman tersendiri yang menyenangkan. Dengan mengajar, kita sendiri juga ikut belajar. Sejak menjadi dokter di kampung halamanku di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, saya sudah aktif mengajar di berbagai sekolah dari SD sampai SMA. Pengalaman mengajar ini menjadi bekal bagiku untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan di manapun saya berada.

Kegiatan kedua adalah Buka Puasa Bersama Dokter PPDS LPDP UI di RSCM (Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo) tanggal 24 Mei 2019. PPDS singkatan dari Program Pendidikan Dokter Spesialis yang biasa disebut juga sebagai residen (calon dokter spesialis). Kegiatan ini tidak hanya diikuti PPDS dari berbagai spesialisasi, tetapi juga para pengurus LPDP UI dan para undangan lainnya. Bahkan Ketua Umum Mata Garuda dan perwakilan LPDP Kementerian Keuangan RI berbagi informasi (sharing) kepada para hadirin. Dengan adanya kegiatan ini maka para penerima beasiswa LPDP dapat lebih mengenal satu sama lainnya. Mata Garuda LPDP juga semakin dikenal oleh para dokter PPDS. Saat ini ada sekitar 100 penerima beasiswa dokter spesialis di UI. Saya juga dipercaya sebagai RT Kedokteran (istilah untuk koordinator tingkat fakultas) LPDP UI. Sebagai RT, saya menjadi sumber informasi bagi para awardee LPDP Fakultas Kedokteran (FK) serta menjadi mediator antara awardee FK dengan Pengurus LPDP UI.

Dalam dunia PPDS LPDP UI saja ada puluhan jenis spesialisasi mulai dari semester pertama sampai semester akhir. Sebagai RT Kedokteran, saya senantiasa berinteraksi dengan para awardee ini baik melalui pesan whatsapp (WA) maupun berinteraksi langsung. Saya belajar memahami psikologi dan kebutuhan setiap rekan-rekan sejawatku ini sekaligus sesama penerima beasiswa. Semoga kelak ketika kami sudah lulus, para dokter spesialis alumni LPDP dapat bekerja sama mengembangkan kedokteran Indonesia dan meningkatkan kerjasama lintas-spesialisasi demi pelayanan prima bagi kesehatan pasien.

Melalui LPDP, saya belajar tentang keragaman dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Awardee LPDP UI sendiri terdiri dari berbagai daerah dengan keyakinan dan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda pula. Dalam pengurusan LPDP UI, saya dipercaya sebagai pengurus bidang Sosial Masyarakat. Jadi saya sering berinteraksi dengan awardee lain selain para dokter. Memahami jalan pikir teman-teman dari profesi lain juga menjadi pengalaman menarik tersendiri. Sesama pengurus LPDP pun sering bertukar pikiran. Semoga kelak para penerima beasiswa LPDP dapat berkolaborasi lintas-sektoral dan memberikan kontribusinya yang terbaik bagi nusa dan bangsa.

Meskipun terlibat aktif dalam berbagai kegiatan LPDP, saya sebagai penerima beasiswa aktif tidak lupa dengan tugas utamaku yakni belajar. Nilai semester pertamaku pun memuaskan dengan IP di atas 3,75. Prestasi ini semakin memacu diriku untuk tetap konsisten belajar dengan giat supaya kelak menjadi tenaga professional di bidangku yakni dokter spesialis Mikrobiologi Klinik.

Semoga tulisan ini dapat menginspirasi para pemuda Indonesia untuk senantiasa merawat Bhinneka Tunggal Ika dan meningkatkan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Indonesia adalah rumah milik kita bersama. Mari kita semua jaga rumah kita tercinta ini. (/niv)

 

Penulis:

Simon Yosonegoro Liem

Awardee LPDP PK-113. Alumni FK UGM ini setelah lulus cum laude pada tahun 2008 langsung pulang mengabdi di kampung halamannya di Ketapang, Kalimantan Barat. Sejak tahun 2018 menimba ilmu di Universitas Indonesia dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Mikrobiologi Klinik. Terlibat aktif dalam berbagai kegiatan LPDP UI dan Mata Garuda LPDP. Saat ini dipercaya sebagai Pengurus LPDP UI Divisi Sosial Masyarakat (Sosma) dan PIC (Person in Charge) Paseban Mengajar. Selain itu juga terlibat di Mata Garuda dalam Tim Kado untuk Anak Indonesia.

Referensi:

  1. http://matagarudalpdp.org/lpdp-dan-alumninya/
  2. https://nasional.kompas.com/read/2018/08/18/18161201/dokter-agoesdjam-yang-terlupakan-dalam-sejarah-perjuangan?page=all
  3. https://edukasi.kompas.com/read/2019/02/22/10585051/massive-action-2019-penerima-beasiswa-lpdp-kembali-untuk-mengabdi?page=all

3 Comments

  1. Biasanya seorang dokter sulit mau diajak menulis dengan berbagai alasan terutama sibuk, namum saya merasa bangga sebagai orang tua, karena anak bungsu ini mau menulis, saya berharap, kebiasaan menulis ini bisa bertahan, dan, mengharap para pembaca bisa beri saran dan pendapat.

    • Terima kasih Papaku yamg senantiasa mendukung dan mendorong anak-anaknya untuk senantisa menimba ilmu dan telah menjadi panutan bagi kami untuk berbagi kepada sesama manusia tanpa memandang latar belakangnya. Semoga kami yang masih muda ini dapat terus belajar dan berkarya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*