Menyentuh Obyek Visual

Dapatkah Kita Menikmati Objek Visual Hanya dengan Mata?

Ketika kecil, saya seringkali mendapati bapak saya memandangi album foto keluarga dengan durasi yang cukup lama. Tak hanya memandangi satu persatu foto tersebut, sesekali bapak juga menyentuh foto tersebut kemudian pandangannya menerawang jauh seakan sedang mengingat masa-masa di mana foto tersebut terjadi. Tak hanya itu, pernah pula di waktu lain, dengan album foto yang sama, bapak menceritakan apa yang ada dalam foto tersebut. Tidak hanya bercerita apa yang sedang terjadi dalam foto tersebut, namun lebih jauh bapak berkisah tentang aktor-aktornya. Bapak berusaha menghidupkan kembali kenangan bersama aktor dalam foto tersebut (yaitu kakak pertama saya) yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu.

Gambaran situasi pada paragraf di atas menjadi latar belakang kenapa pertanyaan di sub judul artikel ini muncul. Asumsi sementara saya adalah bahwa kita tetap bisa menikmati objek visual hanya dengan mata, tapi dengan kualitas yang kurang maksimal. Sejauh ini saya merasa bahwa selain mata, ada indera lain yang terlibat untuk menikmati objek visual secara lebih optimal.

Perjalanan saya membuktikan asumsi atau hipotesa sementara tersebut berujung pada riset kecil-kecilan yang saya lakukan melalui media sosial, Instagram. Saya melihat banyak sekali unggahan foto yang dipasang teman-teman yang saya follow melalui smartphone. Saya tertarik dengan gambar-gambar yang menghadirkan nuansa human interest, atau foto-foto sekelompok orang, entah itu acara pernikahan, reuni, kumpul keluarga, foto balita, atau apapun yang penting ada foto orang. Seringkali jika saya kurang puas memandangi foto-foto tersebut, saya akan memperbesarnya, menggeser ke kanan dan ke kiri, atau menahannya beberapa detik agar perhatian saya benar-benar sempurna. Sudah puas dengan objek visual tersebut, saya akan berkomentar, entah melalui media sosial tersebut atau berceletuk pribadi mengungkapkan apa yang dirasa.

Apa yang saya lakukan ini sangat mirip dengan yang dilakukan bapak. Meskipun objek visualnya memiliki material atau media yang berbeda yaitu kertas foto dalam album dan telepon genggam, namun pelibatan indera yang kami lakukan sama. Kami sama-sama menggunakan indera peraba untuk mengoptimalkan kegiatan menikmati foto atau berinteraksi dengan objek visual. Bedanya, bapak menggunakan aktivitas rabaan tersebut untuk membantunya menghubungkan memori sekarang dan masa lampau dan menceritakan kembali aktor atau peristiwa yang terekam dalam foto. Sedangkan saya, mencoba berinteraksi dan melibatkan diri secara intens dengan foto serta mengekspresikan perasaan melalui komentar atau ungkapan kekaguman.

Elizabeth Edwards (2006, 2012, dan 2014) menyebut bahwa foto tak hanya memiliki hubungan sosial dengan subjek penikmatnya, namun lebih dari itu, keduanya aktif, saling terikat dan terawat, bahkan menjadi perantara hubungan yang mendalam satu sama lain. Foto yang dicetak melalui media kertas misalnya, menjadi perantara seseorang untuk kembali mengungkapkan sejarah, cerita, dan interaksi yang terjalin beberapa waktu silam. Lebih jauh Edwards menjelaskan bahwa foto tak hanya aktif dalam interaksi sosial, namun telah tertanam jauh dalam sebuah arsip seseorang. Tak heran jika kejadian ini melibatkan emosi seseorang ketika memandangi foto lebih dalam. Tak jarang juga kita menemukan adanya seorang ayah yang meneteskan air mata hingga sesenggukan ketika melihat foto anaknya yang telah meninggal dunia. Tidak hanya itu, bahkan sang ayah akan menciumi atau membelai kertas foto yang ada di tangannya tersebut untuk menghadirkan emosi yang sama ketika berada di hadapan sang anak secara nyata.

Foto mampu memanggil memori sekaligus menguncinya sehingga kita dengan mudah mengingat peristiwa-peristiwa yang telah berlalu bertahun-tahun. Foto tak hanya dapat menghentikan ruang dan waktu, tapi dapat memperpanjang ruang dan waktu tersebut melalui serangkaian relasi yang berlipat, bertumpuk-tumpuk dengan sangat signifikan membentuk sebuah hubungan yang kompleks sekaligus dinamis (Edwards, 2012). Gell (dalam Edwards, 2012) menambahkan bahwa hal ini berkaitan dengan penciptaan foto yang memang dihadirkan untuk mengabadikan relasi dan sejarah. Foto sengaja diproduksi untuk nantinya dikonsumsi dan dinikmati pada suatu hari nanti. Sedangkan material fotografi menjadi media yang tepat untuk menceritakan sejarah dalam foto tersebut. Contoh, orang akan lebih mudah memegang foto yang sudah dicetak di kertas kemudian memperlihatkan ke orang lain dan menceritakan pengalamannya dengan apa yang tergambar dalam foto tersebut. Dengan ini foto akan menjadi sebuah identitas dari hubungan sosial sekaligus media yang tak usang dimakan jaman.

Paparan di atas menunjukkan bahwa untuk menikmati foto kita tak bisa lepas dari berbagai sensori yang ada di tubuh kita, seperti rabaan atau sentuhan (tactile), oral atau lisan, dan suara. Fotografi telah menjadi penyambung atau media antara relasi sosial masa lalu, saat ini, dan masa depan penikmatnya, maka aspek oral, suara, dan gerakan tubuh menjadi sangat penting ketika seseorang mulai menceritakan sisi historis dari sebuah foto (Edwards, 2006). Ucapan dan suara adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan ketika seseorang mulai menceritakan sesuatu tentang sebuah sejarah foto. Suara akan memberikan pemahaman karena berintegrasi dengan sejarah dan ucapan akan memperkuat hubungan dengan objek visual tersebut.

Sementara itu, sensorik sentuhan bekerja untuk menguatkan indera lain dan memediasi seseorang dengan pengalaman yang nyata sesuai dengan gambaran foto (Edwards, 2006). Jay dalam Edwards (2006) mengungkapkan bahwa sentuhan memberikan keteguhan kesan rasa dan koneksi orang-orang terhadap sesuatu. Sentuhan memegang peranan penting dalam menghadirkan ingatan atau memori seseorang terhadap apa yang sudah terjadi pada masa lampau. Hal tersebut juga diyakini oleh Finnegan (dalam Edwards, 2014) yang mengatakan, memori manusia dan serangkaian cerita sejarahnya menyatu melalui rabaan atau sentuhan dan pengalaman audio dan visual, selain itu sentuhan dan gerak tubuh juga memberikan timbal balik hubungan karena tindakan itu bekerja melekat dengan sangat erat dengan tubuh seseorang saat sedang berinteraksi dengan sesama. Ini semakin menegaskan bahwa sentuhan akan merangsang ingatan emosi yang dialami seseorang terhadap objek visual, kemudian akan berlanjut pada kemampuan seseorang untuk menceritakan apa yang ada dalam foto tersebut.

Aspek Rabaan dalam Media Digital dan Kehidupan Sehari-hari

             Foto berbentuk digital dan berada pada media seperti komputer, CD, handphone dan media lain juga masih membutuhkan aspek sentuhan atau rabaan. Tindakan sosial yang terjadi ketika seseorang melihat foto di depan layar komputer sangat berbeda jauh dengan kegiatan seperti memegang foto yang dicetak, menyentuh, atau membelai,seakan sedang berinteraksi dengan keluarga dan teman-teman terdeka (Edwards, 2014). Cara baru dalam melihat foto harus dapat menyesuaikan dengan segala perangkat dan relasi yang menyatu pada materi budaya yang ada, mata akan tertuju pada layar, jari akan memainkan keyboard, dan sentuhan badan pun akan ada di sekeliling layar komputer (Edwards, 2012).

            Berkaitan dengan hal itu, manusia selalu menghadirkan pengalaman yang memaksimalkan semua sensori atau indera yang ada untuk menikmati sebuah objek visual. Misalkan, dalam permainan tembak-tembakan di Timezone disediakan perangkat pistol yang tersambung dengan layar sehingga pengalaman bermain tembak-tembakan lebih terasa nyata, DDR (Dance-Dance Revolution), permainan yang dapat meningkatkan kemampuan menari memberikan peralatan tambahan yang dapat di injak yang disesuaikan dengan irama musiknya, atau Playstation merakit remote stick yang bisa bergetar agar pemain dapat merasakan pengalaman bermain video game yang lebih maksimal.

            Contoh dalam kehidupan sehari-hari pun bisa kita lihat ketika menikmati objek visual secara langsung. Misal, saat hendak memilih sebuah baju, kita tak puas hanya dengan melihat saja. Kecenderungannya kita akan mendekat, menyentuh bahan material baju, lalu mencobanya, membayangkan bahwa baju tersebut akan cocok dipakai dengan celana apa yang ada di lemari, kemudian berkomentar dan meminta pendapat dari teman tentang baju yang baru saja dicoba. Gambaran ini menunjukkan bahwa objek visual tak hanya bisa dinikmati oleh indera penglihatan saja, ada aspek lain yang perlu diperhatikan seperti sentuhan, rabaan, memori, oral, suara, dan interaksi sosial yang terjadi antara penikmat dan objek visual.  (/niv)

 

 

Masdar Fahmi

Awardee LPDP PK-110

Master Candidate of Communication (Media and Culture) Studies

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

 

 

Daftar Pustaka

Edwards, Elizabeth. (2006). Photographs and the Sound of History. Visual Anthropology Review. Vol. 21, Issues 1 and 2, pages 27-46.

Edwards, Elizabeth. (2012). Object of Affect: Photography Beyond the Image. The Annual Review of Anthropology. Vol. 41:221-34.

Edwards, Elizabeth. (2014). Photographs, Mounts, and the Tactile Archive. Interdisciplinary Studies in the Long Nineteenth Century. Vol. 19.   

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*