Korean Wave, Sang Penguasa Kapitalisme Asia Paling Mutakhir

Globalisasi merupakan salah satu proses yang saling ketergantungan antar negara yang identik dengan fenomena ekonomi dan teknologi. Selama ini, globalisasi selalu dikaitkan dengan strategi yang dilakukan oleh negara barat untuk memasarkan atau berekspansi secara luas menyebarkan produk-produk budayanya. Sebagai contoh, hadirnya McDonalds dan Coca Cola sebagai industri makanan dan minuman, pakaian sejuta umat bernama Jeans yang tersohor merajai bidang fashion, ataupun pada ranah hiburan yaitu Music Television (MTV) yang banyak menyebar dan menguasai negara-negara di dunia termasuk Indonesia pada era 90-an. Semua contoh ini merupakan produk budaya yang berasal dari Amerika dan berhasil diterima oleh negara-negara lain. Para ahli termasuk Ritzer dan pengamat budaya atau sosiolog melabeli proses ini dengan Amerikanisasi.

Kekuatan asimetris atau dominasi negara barat dalam mengembangkan konsep globalisasi berjalan sangat lama bahkan hingga sekarang. Namun, fenomena lain muncul dan berkembang pesat di era globalisasi, tepatnya di tahun 90-an, ketika Korea Selatan menyebarkan konsep Korean Wave atau Hallyu ke negara-negara tetangganya. Korea menjadi negara sorotan dalam memproduksi budaya-budaya populer yang digemari banyak audiens di negara-negara Asia bagian tenggara termasuk Indonesia. Korea menjadi penguasa pasar global baru setelah mengenalkan banyak sekali serial drama dan musik khas negara ginseng tersebut.

Fenomena ini merubah masa lalu Korea Selatan yang kelam; merupakan daerah jajahan Jepang, negara miskin, dan tak memiliki kekayaan alam dan budaya menjanjikan. Namun, perjuangannya berangsur-angsur membaik bahkan perlahan merajai ekonomi secara global di era tahun 90-an. Sebagai gambaran, pada tahun 90-an nilai ekspor Korea Selatan telah mencapai $ 55 milyar, padahal di tahun 60-an angkanya masih sekitar $ 55 juta saja. Pendapatan dan nilai itu semakin meningkat hingga sekarang di mana Korea makin merajai industri hiburan seperti drama, film, musik, fashion, kosmetik, dan teknologi.

Semua orang tahu bahwa boyband dan girlband saat ini yang paling banyak fans dan paling populer di kalangan anak muda berasal dari Korea. Drakor atau drama Korea menjadi tontonan nomor wahid di kalangan muda-mudi, mengalahkan popularitas telenovela, sinetron, atau sitkom (komedi situasi). Tidak hanya itu, style baju paling mutakhir adalah jika mode dan desainnya berkiblat pada artis-artis Korea. Bahkan, saat ini para wanita sedang gandrung mengimpor krim pemutih dari negara asal Blackpink tersebut. Kondisi ini merambah pada dunia kuliner, di mana restoran bernuansa masakan Korea telah banyak berdiri dan diserbu orang-orang Indonesia. Korea juga tengah menjadi destinasi wisata paling diincar oleh para wisatawan dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Tiap orang membicarakan Korea!   

Hallyu atau Korean Wave pada dasarnya adalah fenomena gelombang budaya Korea Selatan yang tersebar melalui budaya pop Korea ke penjuru dunia via media massa. Karena masanya adalah era globalisasi, maka penyebaran terbesar budaya-budaya tersebut melalui jaringan internet serta televisi. Korean Wave pertama kali dikenalkan di China pada pertengahan 1999 oleh jurnalis Beijing yang kaget dengan popularitas budaya Korea Selatan di Tiongkok yang berkembang pesat.

Penyebaran budaya melalui globalisasi akan semakin mengukuhkan ekspansi ekonomi suatu negara, maka proses ini tak akan lepas dari proses kapitalisme. Para praktiknya, tentu saja kapitalisme dan globalisasi itu sendiri akan juga mempengaruhi segmen-segmen lain seperti ekonomi, politik, teknologi, dan budaya. Para ahli menyebut bahwa Korean Wave ini merupakan fenomena kapitalisme Asia dan proses kapitalisme global yang ujung-ujungnya adalah pemakmuran sektor ekonomi negara tersebut dengan cara menyebarkan kekuasaan melalui produksi budaya. Pada akhirnya, produksi budaya akan lebih menitikberatkan pada produksi makna melalui tanda-tanda (image atau citra tertentu), tak akan penting lagi apa itu esensi nilai guna.

Jean Baudrilllard mengatakan bahwa era kapitalis telah mengubah secara drastis budaya produksi ke arah budaya konsumen atau konsumerisme. Orang akan mengonsumsi sesuatu berdasar pada nilai tanda atau nilai simbol, bukan berdasar pada asas kemanfaatan atau kebutuhan. Contoh, memilih produk dengan merek tertentu agar dipandang sebagai orang yang memiliki status sosial tinggi. Misi utama dari proses ini adalah produsen mengendalikan konsumen dalam mengonsumsi dan memaknai produk tertentu, dan media menjadi wahana untuk merepresentasikan itu. Ujung-ujungnya, konsumen akan hidup pada hiruk-pikuk hiper-realitas atau dunia semu. Menganggap sesuatu yang semu sebagai realitas, mengaburkan batasan antara nyata dan imajiner. Contoh paling nyata adalah pemakaian produk tertentu karena termotivasi dari iklan-iklan yang beredar di televisi.  

Proses produksi budaya Korea Selatan melibatkan banyak sekali aktor yang sudah terintegrasi dan saling mendukung satu sama lain. Mulai dari pemerintah, pihak swasta, para pekerja seni, media, perusahaan teknologi, dan elemen apa pun yang mendukung penguasaan pasar dunia. Secara singkat, strategi yang digunakan melalui beberapa hal yaitu kedekatan budaya memadukan unsur lokal dan barat; sejarah umum dan warisan budaya masa lalu; pengalaman tentang peningkatan industri yang pesat pada abad 20 di wilayah Asia Timur; peningkatan yang pesat dalam perdagangan intra-regional, investasi, dan pariwisata; pengembangan industri teknologi informasi dan industri modern lainnya di Korea Selatan. Semua elemen berjalan sinergi, terintegrasi, sistematis, dan masif dengan satu visi; menyebarkan budaya Korea seluas-luasnya.

Inti dari kapitalisme adalah meraup sebanyak-banyaknya keuntungan ekonomi untuk kemakmuran suatu negara. Korean Wave masih akan terus menyebarkan kekuasaannya di tiap negara yang ia datangi. Jika misi tersebut tak dimbangi dengan nilai-nilai moral, kemanusiaan, perdamaian, dan hal-hal yang bersifat humanis lainnya, maka Korean Wave ibarat binatang buas yang akan siap menerkam siapa saja mangsa yang ada di hadapannya. Meskipun hukum rimba mengatakan, siapa yang berkuasa dan punya tenaga, dialah yang hidup selamanya dan adidaya. Inilah yang menjadi satu-satunya kritik untuk fenomena maha besar ini. Pertanyaan besar berikutnya adalah, apakah Korean Wave sudah sesuai dengan nilai-nilai dan budaya yang kita yakini dan pegang teguh selama ini? (/niv)

 

Ditulis oleh:

Masdar Fahmi

Awardee LPDP (PK-110)

Master Candidate of Communication (Media and Culture) Studies

Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*