Koperasi X Milenial: Demi Indonesia Emas 2045

Sejarah tidak akan menghapus krisis moneter tahun 1998 dari daftar peristiwa bersejarah negeri ini. Kala itu mata uang rupiah terpuruk. Bahkan nilai tukar rupiah pernah mencapai Rp 16.800/dollar AS, terlemah sepanjang sejarah. Gejolak rupiah berimbas ke seluruh sendi perekonomian. Perusahaan-perusahaan yang melakukan ekspansi dengan bermodalkan utang dari luar negeri, harus membayar utang yang membengkak karena pelemahan rupiah. Perbankan pun terkena imbasnya, banyak Bank yang akhirnya harus dilikuidasi.

Di tengah caruk-maruk perekonomian nasional, Koperasi dan UMKM menjadi hampir satu-satunya fondasi ekonomi yang tetap kokoh di tengah badai krisis moneter. Saat nyaris seluruh perusahaan raksasa dengan modal asing kolaps karena rupiah melemah, koperasi menjadi cahaya bagi negeri. Koperasi tanpa pamrih melayani pinjaman masyarakat, ketika hampir semua Bank menolak. Koperasi sebagai soko guru perekonomian menunjukkan tajinya, sehingga kala itu kepercayaan (trust) masyarakat tehadap koperasi tumbuh positif.

Indonesia di antara Ekonomi Digital dan Ekonomi Kreatif 

Beberapa tahun belakangan, Ekonomi global cukup dihebohkan dengan adanya  Revolusi Industri 4.0. Begitu juga dengan Indonesia, Revolusi Industri 4.0 muncul sebagai sebuah fenomena baru yang mempengaruhi iklim ekonomi secara signifikan. Digitalisasi merubah pola perilaku konsumen, dimana semua maunya serba online. Pelaku-pelaku bisnis baru dan lama mau tak mau harus beradaptasi dengan perubahan ini. Mulai dari pelaku bisnis transportasi, agen travel, mall sampai hotel menggandeng teknologi untuk meraih market.    

Ekonomi digital tumbuh diluar dugaan. Sudah ada empat start up yang  masuk kategori unicorn, diantaranya Bukalapak, Tokopedia, Traveloka, dan Go-jek. Hal ini cukup beralasan dengan terbangunnya ekosistem digital di Indonesia. We Are Social merilis ada 132,7 juta penduduk Indonesia melek internet. Itu sama dengan separuh dari jumlah penduduk negeri ini, yang mencapai 265,4 juta per Januari 2018. Dari angka itu 130 juta di antaranya aktif menggunakan platform media sosial dan 120 juta di antara mereka mengakses lewat ponsel pintar.  

Nasib mujur ekonomi digital juga diikuti dengan ekonomi kreatif yang bermekaran bak cendawan di berbagai Kota. Lima tahun belakangan tak terhitung berbagai bisnis kekinian karya anak muda yang memanjakan preferensi konsumen. Satu diantaranya merebaknya fenomena kedai kopi di beberapa Kota besar, dimana tua muda ngopi di kedai dengan rantai nilai ekonomi yang memanjang dari hulu hingga hilir. Rhenald Kasali menyebutnya sebagai esteem economy, dimana ada gaya hidup baru yang menghubungkan antara kebutuhan dan eksistensi seseorang dalam mengkonsumsi sesuatu. Bukan hanya ngopi dan makan di kafe, tapi sekaligus update foto di jejaring online.       

Indonesia Memasuki Babak Baru

Menuju Indonesia Emas 2045, sebuah gagasan yang banyak kita dengar di seminar-seminar dan ruang diskusi. Orang bilang Indonesia memasuki babak baru, banyak optimisme bermekaran. Melihat kenyataan tumbuhnya titik-titik ekonomi baru berkat ekonomi digital dan ekonomi kreatif, maka sah-sah saja jika kita optimis.

Namun benarkah kita sudah selangkah lagi menuju Indonesia Emas ?  

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia sebesar 5,07 persen pada 2018 lalu menjadi kabar gembira yang terus-menerus digaungkan pemerintah. Kegembiraan akan pertumbuhan ekonomi patut dipertanyakan melihat fakta pemerataan ekonomi belum dicapai. Ketimpangan masih menganga, dengan Indeks Gini di angka 0,397 dimana 27,77 juta penduduk masih merasakan kemiskinan. Pertanyaannya dimana letak ekonomi kerakyatan, Jika di tengah hingar-bingar pertumbuhan ekonomi, kemiskinan masih gencar. 

Koperasi : Sebuah Jawaban

Dalam sejarahnya, koperasi sebenarnya bukanlah organisasi usaha yang khas berasal dari Indonesia. Kegiatan berkoperasi dan organisasi koperasi pada mulanya diperkenalkan di Inggris di sekitar abad pertengahan. Pada waktu itu misi utama berkoperasi adalah untuk menolong kaum buruh dan petani yang menghadapi problem-problem ekonomi dengan menggalang kekuatan mereka sendiri.

Doktrinnya adalah masalah kemiskinan hanya dapat diatasi oleh si miskin sendiri,  dengan bergandeng tangan satu sama lain. Doktrin serta pendekatan itu bekerja efektif di sana lalu menyebar ke seluruh dunia dan sampailah di Indonesia pada abad 20-an. Lembaga koperasi sejak awal diperkenalkan di Indonesia memang sudah diarahkan untuk berpihak kepada kepentingan ekonomi rakyat yang dikenal sebagai golongan ekonomi lemah.

Tidak berlebihan jika dikatakan koperasi sebagai strategi yang tepat dalam mengatasi ketimpangan ekonomi. Lagipula, sejarah mengingatkan bahwa ketangguhan koperasi telah teruji menyelamatkan kita saat krismon 98.

Koperasi dapat digerakkan dalam menaungi sektor pertanian masyarakat. Sebagai contoh, Industri buah kalengan di Thailand tidak dilakukan oleh perusahaan besar, melainkan oleh koperasi-koperasi para petani buah. Merekalah yang menjadi pelaku agribisnis buah-buahan dan menangani pascapanen, pengolahan dan mengekspomya. Demikian pula halnya dengan Malaysia, Vietram, RRC, Taiwan, Kanada, Australia dan Negara- Negara Skandinavia. Koperasi-koperasi petani tersebut telah membuat komoditas pertanian mereka bisa menjadi andalan ekspor nasional.

Pembentukan koperasi di negeri-negeri tersebut, memang difasilitasi oleh pemerintah. Namun yang menentukan dibentuknya koperasi tersebut bukan pemerintah melainkan para petani itu sendiri. Sudah saatnya gerakan tersebut ditularkan pada petani-petani di daerah untuk “menolong dirinya sendiri” melalui koperasi. 

Di tengah keberlimpahan akan ekonomi digital dan ekonomi kreatif, koperasi harus mampu dihadirkan kembali, untuk menghadirkan pemerataan ekonomi. Kita harus mengingat jati diri koperasi sebagai “sokoguru” perekonomian nasional, artinya kegiatan ekonomi rakyat di bawah mendukung perekonomian besar di atasnya (dalam hubungan vertikal).

Sebagai contoh koperasi cengkeh dan koperasi tembakau adalah sokoguru industri rokok kretek. Koperasi kopra adalah sokoguru industri minyak goreng, dan seterusnya. Di sinilah awal dari koperasi sebagai wadah ekonomi rakyat (mikro) dan keterkaitan vertikal serta horizontal dalam konsepsi “Triple-Co” (makro) akan menjadi rintisan bagi koperasi dan sistem koperasi sebagai pilar orde ekonomi Indonesia.

Koperasi Ramah Anak Muda

Survei Litbang Kompas (2015) perlu kita simak ulang. Ada 74,3 persen responden mengatakan koperasi mampu sejahterakan anggota. Namun ironisnya, 83 persen responden bukanlah anggota koperasi.

Survei itu dilakukan di 12 kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Bali, Banjarmasin, Makassar, Pontianak dan Manado. Perlu kita ingat, di kota itulah banyak anak-anak muda melahirkan karya kreatif.

Banyak Koperasiawan di tanah air resah dengan bagaimana nasib koperasi saat ini dan mendatang. Ya, ditinggal anak muda.

Pembaruan koperasi di Indonesia harus mampu menciptakan desain yang ramah anak muda. Koperasi tidak akan berhasil jika hanya dijalankan dengan cara-cara era 80-an.

Rebranding Koperasi menjadi satu-satunya pilihan untuk menggaet hati millenial. Tidak hanya dilihat dari sudut pandang perubahan nama, logo, atau simbol. Namun lebih mendalam,  rebranding juga perlu menyentuh segi manajerial hingga strategi marketing.

Peningkatan pelayanan, diversifikasi produk, hingga peningkatan teknologi diharapkan menjadi suatu bauran terobosan rebranding koperasi yang ramah anak muda. Tentunya, tanpa menghilangkan karakteristik aslinya untuk menciptakan keadian dan pemerataan kesejahteraan.

Penggunaan teknologi dengan biaya murah merupakan langkah efisien investasi namun ekspansif. Misalnya, dengan memaksimalkan platform online, atau berkolaborasi dengan marketplace yang telah memiliki basis viewer dan follower anak muda.

Jika koperasi mampu meraih hati anak muda yang notabene merupakan segmen pasar yang luas dan produktif, maka koperasi akan mampu bersanding dengan berbagai pelaku usaha pada era ekonomi digital dan ekonomi kreatif saat ini. Harapannya tidak lain dan tidak bukan adalah terwujudnya pertumbuhan ekonomi disertai pemerataan kesejahteraan masyarakat. Demi Indonesia Emas 2045. Mari kita aminkan bersama.

 

Ditulis Oleh:

Julita Hasanah

Awardee LPDP (PK-135)

 

Referensi    

Edi Swasono, Edi. 2005. KOPERASI Nilai-Tambah Ekonomi Nilai-Tambah Sosial-Kultural Sokoguru Perekonomian. Jakarta : Yayasan Hatta

Firdaus Putra, HC. 2018. Anak Muda, Koperasi dan The Abundance Era diakses melalui https://www.ukmindonesia.id/baca-artikel/113

Lumbantobing, Juliana., dkk. 2002. Ekonomi Koperasi.  Medan :  Universitas Nommensen

Soetrisno, Noer (2001), “Rekonstruksi Pemahaman Koperasi, Merajut Kekuatan Ekonomi Rakyat”, Instrans, Jakarta Stiglitz, Joseph (2006), Making Globalization Work, New York: W.W. Norton & Company.

2 Comments

  1. Hai. Mungkin kebetulan banget ya, alinea kedua dari bawah kok mirip sama tulisan saya ya? Sy mempost artikel soal rebranding koperasi kali pertama di https://sideprojectofwriter.wordpress.com/2018/06/22/rebranding-koperasi-era-millenial-pelayanan-produk-hingga-teknologi/

    kemudian juga saya unggah di website tempat saya bekerja, di https://setkab.go.id/rebranding-koperasi-era-millenial-pelayanan-produk-hingga-teknologi/

    Bukan maksud apa2, tapi jika memang redaksional tersebut terinspirasi dari tulisan saya, mohon mencantumkannya di referensi ya.

    Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*