Komunikasi dalam Lanskap Ekonomi Politik

Vincent Mosco dalam bukunya bertajuk The Political Economy of Communication (2009), khususnya bagian pertama, Overview of the Political Economy of Communication, menandaskan bahwa ekonomi politik merupakan perspektif mayor dalam penelitian komunikasi. Menurutnya, kajian komunikasi yang mendasarkan pada sudut pandang ini, telah dimulai sejak era 1940-an.

Skematik teoretis ekonomi politik menempatkan media komunikasi dan teknologi informasi sebagai dua hal yang saling berkelindan dalam sasaran praksisnya terhadap dominasi media.

Ia juga menjelaskan persoalan resistensi sekaligus menekankan bagaimana transisi media “lama” dan media “baru” memberi arah persebaran gerak aktivisme dalam kajian komunikasi.

Mosco pada bagian bukunya ini, saya kira, memberi perspektif segar tapi penuh kehati-hatian, terutama sudut pandang ekonomi politik dalam konteks media, tak sekonyong-konyong diesensialisasikan sebagai preferensi utama.

Tanpa juga menafikan variabel utamanya, yakni ekonomi politik, pendekatan yang didedah Mosco, juga menghamparkan konsep perubahan sosial, proses sosial, dan relasi sosial. Kesemuanya itu dikerangkakan dalam cakupan bisnis media.

Terdapat tiga titik pijak primer dalam memahami ekonomi politik dalam kajian komunikasi. Pertama, komodifikasi sebagai sebuah proses berorientasi finansial yang dapat dicontohkan seperti penjualan novel maupun produksi film yang menguntungkan. Peran komunikasi sedemikian krusial di sini karena menjadi sebuah komoditas yang bertujuan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Kedua, spasialisasi yang merupakan proses “pemampatan” antara media massa dan teknologi komunikasi dalam rangka mengaburkan batas-batas di antara keduanya.

Sebagai contoh, acara-acara televisi memaksimalkan peran komputer sebagai alat perluasan komunikasi agar bisnis di dalamnya kian fleksibel dan strategis mengeruk keuntungan finansial. Mosco secara retoris mengatakan, “What happens when communication goes global and when businesses use communication to create and manufacture their products worldwide?”

Ketiga, strukturasi yang merupakan proses untuk mengonstruksi relasi sosial yang diorganisasikan melalui konteks ras, gender, maupun kelas sosial. Sebagai contoh dalam cakupan kelas sosial, ekonomi politik mengeksplanasikan bagaimana akses terhadap media massa dan teknologi informasi ditentukan oleh variabel ketidaksetaraan, terutama dilihat dari perbedaan status ekonomi, sehingga terdapat khalayak yang mampu mendapatkan akses maupun tidak.

Bagi Mosco, tak ada definisi khusus yang mewakili penjelasan tentang ekonomi politik dalam komunikasi, namun ia tentu menandaskan sikapnya. Ia memilih mendefinisikan ekonomi politik dalam media sebagai pertukaran makna yang bertujuan melihat tanda atas relasi sosial.

Konsekuensi logis dari definisi ini mempertajam definisi komunikasi yang tak sekadar transmisi informasi, tetapi juga produksi makna sehingga membentuk hubungan di antaranya.

Mosco mendasarkan definisinya secara eksplisit dengan mengacu pada pendekatan neo-marxis. Setarikan napas dengan paradigma neo-marxis versi Sekolah Frankfurt, sekaligus juga pendasaran konsep Raymond Williams, Mosco dalam tulisannya hendak meneropong industri komunikasi yang memiliki pertautan erat dengan kekuasaan dominan dalam lanskap sistem kapitalis.

Bagi Mosco, media dapat memperkuat relasi sosial dan membentuk pula sebuah solidaritas kolektif di bawah bayang-bayang kelas dominan.

Yang menarik dari bagian pertama ini, menurut saya, adalah daya kritis Mosco dalam meneroka para buruh di industri media. Ia dengan tegas mengatakan kalau para buruh yang bekerja di dalam industri komunikasi acap kali dieksploitasi dan dikomodifikasi peran serta fungsinya secara sistematis maupun subtil.

Seperti dinyatakannya, “This ability to eliminate labor, combine it to perform multiple tasks, limit payment for multiple uses, and shift labor to unpaid consumers further expands the revenue potential.” 

Tesis di atas mengingatkan saya, kalau Noam Chomsky dan Edward S. Herman, dalam bukunya berjudul Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media (1988).

Di sana dijelaskan bahwa media komunikasi merupakan alat efektif sekaligus menjadi institusi ideologis yang paling kuat dalam menggencarkan propaganda, sementara Mosco menukik ke dalam “industri kesadaran” dengan memotret bagaimana para buruh media dieksploitasi besar-besaran berikut praktik penghisapan terhadapnya. (/niv)

 

Ditulis oleh:

Rony K. Pratama

Pembelajar Literasi, Media, dan Budaya

Awardee LPDP (PK 106)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*