Kuy Update Status Terkini Biodiversitas dan Ancamannya!

Peringatan Hari Laut Sedunia

Panjangnya sejarah Bangsa Indonesia terhadapat Laut menjadi momentum tersendiri dalam memperingati hari laut sedunia yang akan diperingati setiap tangal 8 Juni. Peringatan ini menguatkan kembali bagi kita sebagai warna negara maritime bahwa kita berada di lokasi yang sangat strategis diapit dua perairan besar (Samudera Hindia dan Samudera Pacific) yang menjadi penghubung benua-benua lain dalam melakukan pelayararan laut. Namun terkadang lengah dan terjadi kasus pencurian dengan banyaknya kapal berbedera asing yang masuk dan memanfaatkan potensi sumberdaya laut kita. Ekploitasi dengan armada kapal yang lebih baik, membuat nelayan tradisional negeri ini kalah sejumlah nelayan negara tetangga. Sebagai contoh produk ikan lemuru atau Sardinella lemuru yang sempat menjadi primadona dan andalan dalam industry pengolahan ikan di Banyuwangi. Menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa keberadaan ikan lemuru ini tidak lagi melimpah dan bahkan dapat dikatakan sangat jarang ditangkap oleh nelayan tradisional disekitar Muncar, Banyuwangi. Mungkinkan terjadi overfishing, atau akibat kerusakan lingkungan yang menyebabkan migrasi alami ikan lemuru ke habitat yang lebih baik dalam penyediaan pangan dan lingkunan yan lebih mendukung.

Perayaan hari laut tahun ini akan bertepatan pada saat sebagian umat muslim merayakan Idul fitri yang menjadi sangat penting dalam momentum untuk meningkatkan pentingnya pengelolaan kawasan periaran laut Indonesia agar lebih baik untuk masa depan anak bangsa. Tempat-tempat wisata akan berjubel dan dipadati karena menjadi momen untuk berkumpul bersama keluarga dan menikmati suasana liburan. Tak dielakkan lagi, sejumlah tempat wisata laut pasti akan menjadi tujuan untuk menikmati kebersaan dan liburan panjang nasional tersebut. Namun perlu disadari, pengelolaan sampah yang menjadi salah satu efek dari aktifitas masyarakat di Indonesia akan bermuara di laut. Tidak hanya sampak makro yang kasap mata, namun microplastik pun sudah menjadi salah atu bahan pencemar yang cukup merisaukan. Akhir-akhir ini sejumlah aktivis peduli lingkungan terus mengkampanyekan program untuk penurunan sampah (plastic), dan menyadari pentingnya biodiversitas bagi kelangsungan hidup manusia. Laporan Sintesis yang di rilis pada April 2018 menyebutkan bahwa 300 juta ton sampah plastic telah dihasilkan tiap tahunnya di berbagai belahan dunia, dan diperikirakan terus mengalami peningkatan sebesar 250 juta ton jika kondisi yang ada masih terus berlanjut dengan pola urbanisasi, konsumsi dan produksi sama yang masih sama. Di Indonesia sendiri, 85.000 ton per hari dan akan ters meningkat hingga mencapai 150.000 ton pada prediksi tahun 2025.

Tidak kita sadari, seluruh komponen biotik kita explorasi untuk beragam kepentingan dari mulai sandang, pangan dan papan. Masalah pangan menjadi krusial karena saat ini tidak hanya mengetahui jenis yang dapat dimakan, namun komponen gizi juga menjadi pemahaman umum. Berkaitan dengan nilai gizi, sumber makanan dari laut tidak diragukan lagi dengan kandungan protein dan lemak tak jenuh yang sangat baik untuk tubuh manusia dan bahkan bagi masa pertumbuhan anak-anak. Namun, apakah hal ini akan menjadi sebuah rentetan sebab akibat saja, tanpa memperhatikan kembali habitat tempat hidup biota (ikan dll) yaitu laut untuk menjadi tempat ternayaman dan menghasilkan sumberdaya yang bermanfaat dan berkualitas tinggi.

Biodiversitas Sumberdaya Laut Indonesia

Dara dari FishBase mnyebutkan bahwa sebanyak 3.701 species ikan teridentifikasi dari periaran bangsa ini (https://www.fishbase.se) yang menunjukkan berapa beragamnya potensi hanya dari ikan laut saja. Selain jenis ikan, biota lain juga menyumbang kontribusi dalam penyediaan pangan seperti rumput laut, udang dan kepiting, serta kelompok molusca lain seperti cumi-cumi dan gurita yang juga menjadi komoditas ekonomis penting.

Sejumlah penelitian menyebutkan beragamnya ikan laut ini, juga terkait dengan bergamnnya ekosistem yang ada di kawasan air asin seperti mangrove, terumbu karang dan seagrass. Pada ekosistem mangrove, negara kita menjadi salah satu negera yang memiliki mangrove terluas di daratan Asia (www.fao.org) dan 38 species Mangrove dapat di temukan di Indonesia (Hutomo and Moosa, 2005). Luasan mangrove tersebut tidak hanya mensupport biodiversitas ikan biota lain yang berasosiasi juga sangat beragam. Namun demikian, konversi besar-besaran tahun 1997-1998 menjadi tambak udang telah menurunkan luasan mangrove di Indonesia. Lembaga peneilitian tentang Hutan, CIFOR, juga menambahkan bahwa mangrove merupakan hutan yang kaya akan carbon dan menyumbang dalam penyerapan carbon dunia. Kemampuan mangrove menyerap karbon diudara 3 kali rata-rata penyerapan karbon di hutan tropis daratan (Donato et al., 2011) dan mampu menyimpan karbonnya sebesar 10-15 dalam sedimen tempat hidupnya (FORTES et al., 2016). Penyerapan karon akan memainkan peran penting dalam isu perubahan iklim dan global warmingyang saat ini juga santer diperbincangkan.

Seagrass dan coral reef ekosistem merupakan pasangan ekosistem penting di perairan dangkal air asin yang juga sekaligus menjadi indicator sehatnya perairan laut. Tak hanya tanaman daratan yang mampu mentenyerap karbon, seagrass juga berkontribusi besar dalam penyerapan karbon. Data yang ditunjukkan dalam kajian tentang penyerapan dan penyimpanan karbon di seagrass menunjukkan hasil yang sangat mencengangkan, bahwa seagrass mampu menyerap 48-112 karbon pertahun pada luasan seagrass global yaitu 177.00-600.000 km2 (http://dels.nas.edu/). Saat ini diperkirakan terdapat 13 species seagrass hidup di perairan Indonesia (Hutomo and Moosa, 2005). Sedangkan coral reef menadaptasi berbeda terhadap emisikarbon di atmosfir. Tinginya karbon akan berdampak dalam penurunan pH air laut yang justru akan berbahaya dan mematikan coral reef. Selain itu, jebakan panas yang menimbulkan bleaching pada sejumlah coral reef di daerah tropis juga sangat mengkhawatirkan.Sehingga, interaki antara tanaman sejati (hutan tropis, mangrove dan seagrass) menjadi perpaduan ekosistem penting dalam menjada kelangsungan biodiveristas di Indonesia yang telah lama dikenal sebagai hotspot biodivesitas dunia. Dalam laporan penelitian (Hutomo and Moosa, 2005) menyebutkan bahwa terdapat 3 kelompok koral (hard, soft dan gorgonian) yang dapat ditemukan di periaran Indonesia. Kelompok hard coral menempati jumlah terbesar yaitu 590 species, diikuti jenis gorgonian sebanyak 350 species dan terakhir 210 species berupa soft coral. Habitat coral reef merupakan komplek ekosistem terpadat yang dihuni beragam jenis dan taxa, sperti sponge (830 species), moluska (2.500 species yang terbagi menjadi kelompok kerang sekitar 1.000 species dan kelompok gastropoda 1.500 species). Ikan-ikan karang juga menjadi daya Tarik tersendiri dengan jumlah species yang sangat tinggi selain itu juga di coral reef ditemukan mamalia laut seperti Dugong (1 species).

Ancaman Kerusakan Lingkungan dan Degradasi Biodiversitas

Secara alami, ancaman biodiversitas muncul dengan menurunnya kualitas perairan akbit proses alam seperti global warming dan marine acidification (pengasaman laut), namun demikian fenomena alam ini tidak berjalan dengan sendirinya. Faktor kontribusi manusia juga berperan dalam perubahan kondisi tersebut. Pembangunan di berbagai sector (industri misalnya) menjadi salah satu penyebab dan berdampak cukp signifikan. Tidak bisa dihindari, perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong untuk melakukan perubahan diberagam sector untuk perbaikan kualitas kehidupan manusia, namun harus tetap memperhatikan aspek keseimbangan terhadap kondisi lingkungan. Ancaman limbah industri dan pencemran lingkungan sebenarnya sudah disadari dan diketahui bersama, namun tidak banyak masyarakat yang menyadari dampak perubahan ini terhadap kehidupan manusia.

Punahnya sebuah species, tidak akan dirasakan oleh manusia. Kita tidak pernah merasakan itu, namun dalam kajian ekologi, kesimbangan akan beruban dan membentuk sebuah kesimbangan baru. Apakah keseimbangan baru yang terbentuk akan memberikan tempat terbaik bagi manusia. Kita tidak tahu, yang pasti, manusia terus melakukan perubahan proses kesimbnagan yang terjasi. Ekploitasi berlebih terjadi di belahan perairan laut, dan terjadi pula di laut Jawa (Fauzi dan Anna, 2010; Squires et al., 2003; Triarso, 2012). Overfishing berarti terjadi penurunan produksi perikanan, yang juga berdampak dalam penyediaan lapangan kerja (memicu penanguran di sektor perikanan). Dampak lainnya juga bisa menjadi seperti gunung es yang akhirnya dapat menjadi boomerang bai industry ikan sardine di Indonesia yang berproduksi dari bahan baku ikan sardine impor (https://regional.kompas.com)

Regular Survey dan Monitoring

Sebagai upaya dalam pengelolan yang baik, maka informasi yang tersdia haruslah berasal dari datayang valid dan akurat. Tidak dipungkiri bahwa saat ini sangat sulit mendapatkan data yang valid baik dari dinas dan kemeterian terkait informasi sumberdaya alam. Hal ini karena terbatasnya kegiatan survey regular yang terus memonitor pergerakan data biodiversitas di Indonesia. Penelitian dari sejumlah pakar masih parsial di beberapa kawasan yang mungkin secara ekologis menadi kunci dan sumber palsma nutfah (sepeti Taman Nasional dan Suaka Margaswata) namun hal ini tidak dapat menjadi informasi general tentang Indonesia. Kerjasama antar lembaga penelitian juga masih sangat sulitdibuktikan dengan egos sectoral yang masih kuat. Masing-masinglembaga riset ingin menjadi lembaga unggul yang menghasilkan data terabit. Namun, konsep kolaborasi dalam pengumpulan data masih menjadi sebuah fenomena langka meskipun sudah mulai dilakukan oleh bebera instansi. Regular survey periaran laut seharusnya dilakukan leh Indonesia sebagai negara martin. Seluruh disiplin keilmuan bisa berkolaborasi dari unsur keilmuan phisik, kimia dan biologi dan menghasilkan data yang sangat bermanfaat bai keilmuan sekaligus pengambil kebijakan.

Tantangan Aplikasi Teknologi Terkini

Tradisonal survey yang dilakuakan umumnya menggunakan trawl untuk menangkap sumberdaya (ikan) secara langsung dan melakukan identifikasi secara anatomic morfologi (Demestre et. al., 2015). Kegiatan ini perlu dilakukan dalam periode dan melibatkan sejumlah ahli khususnya dalam masalah taxonomy untuk menetapkan species berdasarkan identifikasi yang dilakukan.  Sedangkan pada perairan dangkan, underwater visual census (UVC) menjadi metode yang paling umum dilakukan dalam mengumpulkan data sumberdaya ikan di periaran laut.

Baik metode trawl dan UVC yang memiliki sejumlah kelebihan dan terdapat pula keterbatasan. Keterbatsan dalam implementasi dengan metode trawl sangat kental. Metode ini dilakukan dengan pengunaan kapal khusus, dengan teknisi yang terlatih dan didukung peralatan lainnya yang juga tidak murah. Kapal penelitian umumnya tidak hanya dilengkapi echo sounder, tetapi perangkat sensor lainnya yang mampu mendapatkan informasi phisic, kimia dan sekaligus biologi secara komprehensip. Kapan seperti ini harusnya sudah menjadi inentaris wajib untuk negara maritime dalam mendokumentasikan sumberdaya alamnya. Biaya operasional kapan juga menjadi faktor pembatas, selain itu sejumlah ahli taxonomi juga tidak mudah ditemukan di negeri ini. Ilmu taxonomy menjadi ilmu yang tidak favorit karena buan profesi yang mendatangkan uang secara langsung. Selain factor-faktor tersebut, data awal yang tidak lengkap (Rogers and Ellis, 2000) juga menjadi kendala selain adanya beberapa kesalahan dalam penyusunan database yang saat ini digunakan (Daan, 2001).

Baru-baru ini, metode baru telah diperkenalkan untuk memantau keanekaragaman hayati ikan dengan menganalisis DNA yang diekstraksi langsung dari sampel air, yang disebut eDNA (Stoeckle et al., 2017; Taberlet et al., 2012; Thomsen et al., 2012a). Metode ini, sudah banyak digunakan dengan beberapa kelebihan yaitu tidak membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang relatif rendah untuk analisis (Kelly et al., 2014; Shaw et al., 2016; Stoeckle et al., 2017; Yamamoto et al., 2017). Analisis eDNA juga telah efektif dalam mendeteksi spesies yang terancam punah (Laramie et al., 2015; Thomsen et al., 2012b), invasive species (Ardura et al., 2015; Cai et al., 2017; Clusa et al., 2017; Dejean et al., 2012; Klymus et al., 2017; Takahara et al., 2013; Williams et al., 2018), distribusi spesies ikan (Yamamoto et al., 2017; Yamamoto et al., 2016) tanpa melakukan sampling dan merusak habitat pada suatu kawasan. Dengan diaplikasikan metode ini pada perairan Indonesia, database dapat diperbaharui dalam periode waktu tertentu untuk pengelolaan ekosistem laut Indonesia yang lebih baik. Selamat hari laut, dan jadilah bangsa yang mampu menghargai laut. (/niv)

 

Reference

Ardura, A., Zaiko, A., Martinez, J.L., Samulioviene, A., Semenova, A., Garcia-Vazquez, E., 2015. eDNA and specific primers for early detection of invasive species–a case study on the bivalve Rangia cuneata, currently spreading in Europe. Marine Environmental Research 112, 48-55.

Cai, W., Ma, Z., Yang, C., Wang, L., Wang, W., Zhao, G., Geng, Y., Douglas, W.Y., 2017. Using eDNA to detect the distribution and density of invasive crayfish in the Honghe-Hani rice terrace World Heritage site. PloS one 12, e0177724.

Clusa, L., Miralles, L., Basanta, A., Escot, C., García-Vázquez, E., 2017. eDNA for detection of five highly invasive molluscs. A case study in urban rivers from the Iberian Peninsula. PloS one 12, e0188126.

Daan, N., 2001. The IBTS database: a plea for quality control. Unknown Publisher.

Dejean, T., Valentini, A., Miquel, C., Taberlet, P., Bellemain, E., Miaud, C., 2012. Improved detection of an alien invasive species through environmental DNA barcoding: the example of the American bullfrog Lithobates catesbeianus. Journal of applied ecology 49, 953-959.

Donato, D.C., Kauffman, J.B., Murdiyarso, D., Kurnianto, S., Stidham, M., Kanninen, M., 2011. Mangroves among the most carbon-rich forests in the tropics. Nature geoscience 4, 293.

FORTES, M., ALONGI, D., MURDIYARSO, D., FOURQUREAN, J., KAUFFMAN, J., HUTAHAEAN, A., CROOKS, S., PIDGEON, E., WAGEY, T., LOVELOCK, C., 2016. Indonesia’s blue carbon: a globally significant and vulnerable sink for seagrass and mangrove carbon. Null.

Hutomo, M., Moosa, M.K., 2005. Indonesian marine and coastal biodiversity: Present status.

Kelly, R.P., Port, J.A., Yamahara, K.M., Crowder, L.B., 2014. Using environmental DNA to census marine fishes in a large mesocosm. PloS one 9, e86175.

Klymus, K.E., Marshall, N.T., Stepien, C.A., 2017. Environmental DNA (eDNA) metabarcoding assays to detect invasive invertebrate species in the Great Lakes. PloS one 12, e0177643.

Laramie, M.B., Pilliod, D.S., Goldberg, C.S., 2015. Characterizing the distribution of an endangered salmonid using environmental DNA analysis. Biological Conservation 183, 29-37.

Rogers, S., Ellis, J., 2000. Changes in the demersal fish assemblages of British coastal waters during the 20th century. ICES Journal of Marine Science 57, 866-881.

Shaw, J.L.A., Clarke, L.J., Wedderburn, S.D., Barnes, T.C., Weyrich, L.S., Cooper, A., 2016. Comparison of environmental DNA metabarcoding and conventional fish survey methods in a river system. Biological Conservation 197, 131-138.

Stoeckle, M.Y., Soboleva, L., Charlop-Powers, Z., 2017. Aquatic environmental DNA detects seasonal fish abundance and habitat preference in an urban estuary. PLOS ONE 12, e0175186.

Taberlet, P., Coissac, E., Hajibabaei, M., Rieseberg, L.H., 2012. Environmental DNA. Molecular ecology 21, 1789-1793.

Takahara, T., Minamoto, T., Doi, H., 2013. Using environmental DNA to estimate the distribution of an invasive fish species in ponds. PloS one 8, e56584.

Thomsen, P.F., Kielgast, J., Iversen, L.L., Møller, P.R., Rasmussen, M., Willerslev, E., 2012a. Detection of a diverse marine fish fauna using environmental DNA from seawater samples. PLoS one 7, e41732.

Thomsen, P.F., Kielgast, J., Iversen, L.L., Wiuf, C., Rasmussen, M., Gilbert, M.T.P., Orlando, L., Willerslev, E., 2012b. Monitoring endangered freshwater biodiversity using environmental DNA. Molecular ecology 21, 2565-2573.

Williams, K.E., Huyvaert, K.P., Vercauteren, K.C., Davis, A.J., Piaggio, A.J., 2018. Detection and persistence of environmental DNA from an invasive, terrestrial mammal. Ecology and evolution 8, 688-695.

Yamamoto, S., Masuda, R., Sato, Y., Sado, T., Araki, H., Kondoh, M., Minamoto, T., Miya, M., 2017. Environmental DNA metabarcoding reveals local fish communities in a species-rich coastal sea. Scientific Reports 7, 40368.

Yamamoto, S., Minami, K., Fukaya, K., Takahashi, K., Sawada, H., Murakami, H., Tsuji, S., Hashizume, H., Kubonaga, S., Horiuchi, T., 2016. Environmental DNA as a ‘snapshot’of fish distribution: A case study of Japanese jack mackerel in Maizuru Bay, Sea of Japan. PLoS One 11, e0149786.

 

Penulis

Sapto Andriyono (Awardee Budi-LN LPDP 2016)

Doctor, Interdisciplinary Program Biomedical, Mechanical, electrical Engineering, Pukyong National University

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*