Kuy, Kenalan Dengan Bauksit Lebih Dekat!

Aluminium, Alumina, dan Bauksit

Aluminium adalah logam non-besi paling banyak digunakan di dunia saat ini. Keberadaannya sangat berlimpah dan menemati urutan ketiga elemen terbanyak di muka bumi setelah oksigen dan silicon. Aluminium menyusun 8% dari komposisi kerak bumi, menjadikannya logam paling melimpah disini. Produksi aluminium dapat dilakukan dengan dua cara: produksi primer melalui aktivitas penambangan dan produsi sekunder dengan daur ulang aluminium bekas. Produksi primer menyusun sekitar 80%, sedangkan sekunder 20% dari total produksi.

Untuk menghasilkan aluminium primer, mineral bauksit diperlukan sebagai bahan baku. Mineral bauksit yang kaya akan aluminium oksida seperti gibbsite, boehmite, dan diasphore merupakan bahan baku utama produksi aluminium. Secara distribusi, daerah tropis dan subtropis merupakan wilayah paling banyak cadangan bauksitnya (sekitar 90% cadangan dunia). Secara natural, cadangan bauksit biasanya terhampar pada dataran yang sangat luas hingga ratusan kilometer persegi dengan ketebalan hanya 4-6 meter. Proses penambangan bauksit biasanya dilakukan dengan metode penggalian lanskap dangkal, namun meluas. Keadaan natural bauksit yang membentang luas inilah yang kemudian menyebabkan aktivitas ini meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang signifikan.

Begitu bauksit berhasil ditambang, proses selanjutnya adalah dimurnikan dengan Bayer Process untuk menghasilkan alumina. Alumina inilah yang kemudian akan diangkut ke pabrik-pabrik smelter untuk dijadikan produk aluminium yang siap dipasarkan. Untuk saat ini, kebutuhan aluminium terus meningkat seiring dengan semakin gencarnya pembangunan di negara berkembang. Hal ini dapat dipahami karena aluminium banyak sekali dibutuhkan dalam proyek-proyek infrastruktur, elektrifikasi, packaging, dan industri otomotif. Tahun lalu produksi aluminium dunia mencapai 64 juta ton dan diprediksi akan terus meningkat hingga 30 tahun mendatang. China merupakan pemeran utama baik dalam produksi maupun konsumsi aluminium.

Indonesia sendiri sempat menjadi salah satu pemeran penting dalam produksi bauksit dunia. Tercacat, Indonesia memproduksi 57 juta ton bauksit pada tahun 2013, memasukkan Indonesia menjadi top 3 global bauxite producer. Moratorium yang mulai berlaku tahun 2014 membuat produksi kita turun drastis ke angka 2.5 juta ton, dan bahkan mencapai dibawah setengah juta ton pada tahun 2015. Dicabutnya moratorium pada tahun berikutnya membuat produksi bauksit di Indoensia naik kembali. Tahun lalu jumlahnya sudah mencapai 7.1 juta ton, pasar ekspor masih menjadi tujuan utama penambang bauksit karena masih terbatasnya jumlah pabrik pemurnian dan smelter di Indonesia.

Residu Bauksit

Selain luasnya jejak kerusakan lingkungan (environmental footprint), masalah yang tak kalah penting dari tambang bauksit adalah pengelolaan residunya. Residu bauksit adalah produk sampingan dari proses pemurnian bauksit menjadi alumina melalui Bayer Process. Setiap satu ton alumina akan menghasilkan sekitar 2-3 ton residu bauksit, bergantung pada kualitasnya. Tercatat sejak 1977 telah diproduksi sekitar 2 milyar ton alumina, artinya total deposit residu bauksit di dunia telah mencapai 5 milyar ton. Berdasarkan laju peningkatan produksi alumina dan aluminium, jumlah residu bauksit akan terus bertambah sekitar 120 juta ton per tahun. Residu bauksit merupakan bahan berbahaya bagi lingkungan karena memiliki pH, salinitas, dan sodisitas yang sangat tinggi. Diperlukan jutaan hektar lahan untuk bisa menampung 5 milyar ton residu bauksit tersebut.

Ada beberapa alternatif solusi yang telah ditawarkan untuk mengatasi permasalahan residu bauksit ini, diantaranya adalah perbaikan teknologi penampungan, pemanfaatan residu untuk bahan produksi, dan melakukan rehabilitasi. Perbaikan teknologi penampungan meliputi perubahan trend dari penampungan bahan cair menjadi penampungan padat/semipadat. Penampungan residu cair memerlukan luas area yang lebih besar dan lebih rawan jebol ketika kolam menampung melebihi kapasitas atau terjadi bencana alam. Penampungan padatan menawarkan pengurangan kebutuhan luas area, akan tetapi harus diwaspadai resiko pencemaran udara karena residu bauksit adalah partikel halus yang mudah terbawa angin ketika kering. Solusi yang kedua adalah memanfaatkan residu bauksit sebagai bahan produksi seperti batu-bata, campuran concrete, gerabah, dan material infrastruktur lainnya. Solusi ini sebenarnya paling menguntungkan karena mengubah nilai residu bauksit dari limbah menjadi barang ekonomis. Akan tetapi, karena lokasi tambang yang umumnya jauh mengakibatkan tingginya biaya angkut. Produsen lebih memilih menggunakan bahan lokal karena lebih murah. Akibatnya tidak banyak residu bauksit yang bisa dimanfaatkan untuk bahan produksi. Solusi ketiga (dan terakhir) adalah melakukan rehabilitasi tambang bauksit, yaitu memperbaiki struktur residu bauksit sehingga bisa kembali menjadi lahan normal. Solusi ini harus melibatkan campur tangan pemerintah. Melalui undang-undang, pemerintah umumnya mensyaratkan penambang bauksit untuk melakukan rehabilitasi semua bekas tambang, termasuk kolam penampungan residu ini.

Untuk konteks di Indonesia sendiri, hanya sekitar 1.3 juta alumina dihasilakan setiap tahunnya. Meskipun produksi bauksit melimpah, namun kapasitas pabrik pemurnian bauksit masih sangat terbatas. Baik smelter maupun refinery plant umumnya lebih banyak terdapat di negara-negara maju dimana harga listrik lebih terjangkau. Pabrik-pabrik ini merupakan jenis industri dengan kebutuhan energi sangat tinggi sehingga harga listrik menjadi pertimbangan utama. Indonesia berencana menambah kapasitas pabrik pemurnian bauksit sebesar 2 juta ton pada tahun 2022 nanti. Dengan total produksi mencapai 3.3 juta ton maka sekitar 8 juta ton residu bauksit akan dihasilkan di Indonesia setiap tahunnya. Pengetahuan teknologi rehabilitasi residu bauksit sangat diperlukan untuk mengimbangi rencana peningkatan kapasitas produksi alumina tahun 2022 nanti.

Teknologi Rehabilitasi Residu Bauksit

Metode rehabilitasi: tradisional store and cap

Secara tradisional, tempat penampungan residu bauksit dapat direhabilitasi dengan metode “store and cap”. Inti dari metode ini adalah menampung residu dalam suatu wadah (kolam) hingga mendekati penuh, setelah itu bagian atas penampungan tersebut ditutup dengan topsoil. Topsoil ini akan menjadi media tumbuh untuk tanaman-tanaman tertentu sehingga vegetasi “terlihat” seperti dipulihkan. Metode ini telah diaplikasikan secara luas dan dalam waktu yang lama oleh para pelaku industri. Meskipun demikian, metode ini masih memiliki banyak kekurangan seperti:

  • Hanya menututup/mengisolasi material berbahaya tanpa usaha sistematis mengurangi/menghilangkan kadar toksisitasnya
  • Karena hanya menutup, potensi kerusakan lingkungan oleh residu tersebut akan sama dari waktu ke waktu. Struktur yang dibangun bisa saja jebol dan mencemari lingkungan seperti yang terjadi di Eropa dan Amerika selatan beberapa tahun lalu
  • Terbatasnya ketebalan tanah topsoil membatasi jenis dan jumlah tanaman yang bisa ditumbuhkan
  • Terakhir dan yang paling penting adalah metode ini memerlukan topsoil dalam jumlah masif. Import topsoil seringkali diperlukan. Celakanya, karena area tambang yang jauh dari pemukiman, proses pengangkutan topsoil ini memerlukan biaya yang sangat besar. Tidak jarang proses rehabilitasi terpaksa berhenti ditengah jalan karena biaya membengkak.

Metode rehabilitasi mutakhir: ecological-engineering in situ rehabilitation

Untuk menjawab berbagai permasalahan yang muncul di metode sebelumnya, beberapa kelompok peneliti dari Sustainable Mining Institute, The University of Queensland mengembangkan metode baru. Inti dari metode ini adalah mengubah residu bauksit menjadi media tanam tanpa memerlukan ekspor topsoil. Dengan menstimulasi metabolisme mikroorganisme di kolam penampungannya, peneliti mampu menurunkan kadar pH, salinitas, dan sodisitas yang merupakan masalah utama residu bauksit. Penambahan limbah organik dan gypsum (kapur) dapat mengubah kondisi biogeokimia residu sehingga tanaman pioneer bisa tumbuh. Ketika tanaman pioneer berhasil ditumbuhkan, kondisi kesuburan tanah akan terus membaik sementara material beracun akan semakin berkurang. Jika berhasil mempertahankan kondisi ini dalam waktu yang cukup lama, tanaman-tanaman lain akan bermunculan, vegetasi dapat dipulihkan, dan residu bauksit akan berubah menjadi tanah produktif. Karena tidak memerlukan import topsoil dari luar, metode ini diproyeksikan mampu memangkas lebih dari setengah biaya rehabilitasi. Jika biaya rehabilitasi terjangkau, diharapkan akan semakin banyak perusahaan yang mengerjakan rehabilitasi. Pada akhirnya, akan semakin banyak lahan produktif baru hasil rehabilitasi, kegiatan ekonomi dapat berjalan, dan kesejahteraan manusia secara keseluruhan meningkat. Untuk konteks Indonesia yang berencana menambah 2 juta ton produksi alumina, pengenalan dan penguasaan metode ini akan sangat bermanfaat baik untuk industri, lingkungan, dan seluruh masyarakat. (/niv)

 

Penulis:

Mashudi (PK-78)

Alumni Sustainable Mining Institute, The University of Queensland

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*