Sinar Harapan Peningkatan Minat Baca Indonesia

Hasil survei minat baca Indonesia yang dilakukan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2012 seolah menjadi petir di tengah hujan lebat dan badai angin bagi bangsa ini. Bagaimana tidak, hasil survei tersebut mengatakan bahwa minat baca Indonesia berada di posisi kedua terendah dari 62 negara yang disurvei, yaitu hanya sebesar 0,001%. Artinya, dari 1000 manusia, hanya 1 orang yang memiliki minat membaca tinggi. Selain itu, Studi Most Littered Nation in the World yang dilakukan oleh Central Conecticut State University, AS pada tahun 2016 juga mengungkapkan hal yang serupa mengenai rendahnya minat baca masyarakat Indonesia.

Meskipun isu rendahnya minat baca Indonesia sangat menyedihkan, kabar gembiranya masih ada banyak masyarakat Indonesia yang peduli terhadap peningkatan minat baca anak negeri. Tak hanya peduli, mereka juga bergerak nyata menjadi bagian dari solusi untuk negeri ini. Banyak sekali program yang diinisiatif oleh orang-orang tersebut. Salah satunya melalui pengadaan perpustakaan di berbagai daerah yang memudahkan orang-orang yang kurang mampu untuk mendapatkan bahan bacaan berkualitas. Beberapa kontribusi nyata meningkatkan minat baca Indonesia di antaranya;

Untukmu Si Kecil (USK)

Dilatarbelakangi keprihatinan terhadap anak-anak kecil yang tidak memiliki sarana belajar dan bermain yang memadai, Alm. Prof. Dr. Ayu Sutarto M. A mendirikan sebuah rumah belajar dan bermain sejak tahun 1998 yang kemudian diberi nama Untukmu Si Kecil (USK) di Kabupaten Jember Jawa Timur. Sebagai rumah belajar, USK menyediakan perpustakaan sebagai sarana belajar membaca, menulis, dan berdiskusi. Selain itu, untuk menyiapkan anak bangsa dengan kemampuan penalaran yang baik, berpikir kritis, kreatif, serta peka terhadap budaya, USK juga mengadakan aktivitas bermain dan program kesenian seperti Gobag Sodor, Engklek, Bekel, Dakon, Egrang, Jamuran, dan Jumpritan. Hingga saat ini USK berhasil menjadi jembatan bagi anak-anak yang kurang mampu untuk tetap bisa belajar dengan sarana buku dan pendampingan yang cukup memadai.

Gerakan Perpustakaan Anak Bangsa (GPAN)

Berawal dari keinginan yang kuat untuk berkontribusi nyata pada negeri, Imam Arifa’illah Syaiful Huda, alumni Universitas Negeri Malang, mendirikan Gerakan Perpustakaan Anak Bangsa (GPAN) tahun 2015. Dari hasil pengamatan, ditemukan sebuah masalah prioritas yaitu rendahnya minat baca anak-anak serta terbatasnya akses buku bagi anak-anak kurang mampu. Dengan memanfaatkan jaringan dan media sosial, Imam mencoba menggalang buku dan merekrut anggota relawan hingga akhirnya terbentuk komunitas GPAN.

GPAN sudah tersebar ke beberapa kota di Nusantara seperti Jember, Lamongan, Jogja, Bandung, Pasuruan, Madiun, Palu, Probolinggo, Medan, Tangerang, Banjarmasin, Ponorogo, Kepanjen, Kediri, Surabaya, Bali, Ciamis, dan Depok. Selain pengadaan perpustakaan untuk anak kurang mampu di masing-masing daerah, GPAN juga terdapat berbagai aktivitas kreatif untuk meningkatkan minat baca anak baik dalam bentuk permainan maupun aktivitas mendongeng.

Rumah Baca AsmaNadia

Sesuai namanya, rumah baca ini digagas oleh penulis best seller, Asma Nadia. Dengan mimpi membangun 1000 perpustakaan di seluruh penjuru negeri sehingga anak-anak yang kurang mampu tetap dapat membaca, tercatat sebanyak 257 perpustakaan dari Aceh sampai Papua terbangun sejak tahun 2003. Salah satunya adalah Rumah baca AsmaNadia di Ciranjang. Selain pengadaan perpustakaan dan ruang belajar, Rumah baca AsmaNadia Ciranjang yang dibangun oleh Zaenal Mutaqin juga menyediakan berbagai program lain seperti rumah Komputer, rumah tahfidz, rumah sastra, dan pengajian ibu-ibu yang tidak dipungut biaya. Semua biaya operasional seperti listrik, internet, dan peralatan ATK, ditanggung oleh Zaenal Mutaqin seorang guru honorer. Inspiratif.

Kampoeng Batja

Kampoeng Batja merupakan sebuah perpustakaan pribadi untuk umum milik Iman Suligi yang beralamatkan di Jl. Nusa Indah VI No. 7 Jember. Berawal dari keinginan untuk memanfaatkan koleksi bukunya, ia membuat taman baca di rumahnya sejak tahun 1978. Setelah melalui perjuangan yang tidak mudah, idenya untuk membuat taman baca kemudian mendapat dukungan dari pemerintah melalui program pemerintah PNPM. Tak hanya sampai di sini, Iman Suligi terus melakukan inovasi untuk menjaga eksistensi Kampoeng Batja.

Sampai saat ini, Kampoeng Batja kerap menjadi tempat berkunjung para pegiat literasi dan seni. Tak tanggung-tanggung, Kampoeng Batja juga melibatkan seniman asing dalam kegiatannya sehingga Kampoeng Batja terus melakukan inovasi dalam membuat kegiatan. Salah satunya adalah “sudut baca” yang berisi buku-buku kesehatan untuk komunitas manula sesuai target masyarakat sekitarnya. Selain itu, taman baca ini juga dilengkapi dengan Gazebo, tempat bermain anak, dan taman yang asri sehingga menambah daya Tarik orang untuk berkunjung.

 

***

Dari mereka kita belajar dan mengerti bahwa minat baca Indonesia mungkin memang masih rendah, tapi Indonesia masih punya harapan yang besar untuk berbenah karena masih memiliki banyak orang baik yang peduli dan nyata berkontribusi bagi bangsa dengan caranya masing-masing. Dari mereka kita juga belajar bahwa untuk berkontribusi, kita bisa mulai dari langkah sederhana.

“Melakukan sesuatu yang sederhana tapi nyata lebih baik daripada berpikiran besar tanpa melakukan apa-apa” (Alm. Prof. Dr. Ayu Sutarto M. A)

Salam literasi dan kontribusi! (/niv)

 

ditulis oleh

Ainul Maghfirah (PK 61)

Alumni Magister Kimia, Institut Teknologi Bandung

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*