Revolusi Industri 4.0  dan Making Indonesia 4.0, Siapkah Kita?

Istilah Revolusi Industri 4.0 sudah tidak asing bagi kaum akademisi, praktisi, maupun dunia industri. Industri generasi ke empat ini merupakan perubahan sektor industri yang dipengaruhi oleh pesatnya perkembangan teknologi Informasi serta internet. Dalam pembukaan Indonesia Industrial Summit Tahun 2018, Presiden Joko Widodo meluncurkan Making Indonesia 4.0 di Jakarta Convention Center, Senayan Jakarta, seperti yang dilansir oleh Kompas.com (4/4/2018). Siapkah kita menuju Making Indonesia 4.0 ?

Making Indonesia 4.0 diluncurkan sebagai salah satu strategi Negara Republik Indonesia dalam memasuki Revolusi Industri ke-4. Dalam siaran Pers pada laman situs Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (20/3), disebutkan target strategi ini antara lain posisi Indonesia pada 10 besar ekonomi di tahun 2030; pengalokasian 2% dari Gross Domestic Product (GDP) untuk aktivitas Research & Development (R&D) teknologi dan inovasi atau sekitar 7 kali dari alokasi saat ini. Pada saat peluncuran Making Indonesia 4.0 tersebut, Presiden menyatakan telah mengelompokkan lima Industri utama yang disiapkan untuk Revolusi Industri 4.0. Kelima Industri tersebut yaitu Industri makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia. Faktor utama terpilihnya lima bidang tersebut adalah peluang penyerapan tenaga kerja lebih banyak serta kontribusi investasi berbasis teknologi. Dengan demikian, syarat yang harus dilakukan dalam roadmap menuju Making Indonesia 4.0  adalah (1) kontribusi Dunia pendidikan dalam mempersiapkan sumber daya manusia, serta (2) peran bidang penelitian dalam kompetisinya ‘melahirkan’ teknologi yang berbasis pada kebutuhan menuju Making Indonesia 4.0.

Siapkah Kualitas Pendidikan kita?

Pertanyaan menantang yang senantiasa didengungkan khususnya pada momen Hari Pendidikan Nasional tentang Seberapa Siapkah kualitas pendidikan kita dalam mendukung dan menyiapkan SDM? Hal ini menjadi refleksi tersendiri khususnya bagi para akademisi yang saat ini sedang menempuh pendidikan di berbagai Universitas di Dalam Negeri maupun Luar Negeri. Bagaimana sebenarnya kualitas pendidikan di Negara kita? Bagaimana kualitas Pendidikan Di daerah terpencil, sebut saja, Papua?

Berdasarkan Global Competitiveness Index 2017-2018, salah satu index –nya yaitu Quality of Education di Competitiveness Region East Asia and Pacific, Indonesia memiliki score 4.6 bersama dengan India, namun berada dibawah Singapore dan Malaysia yang memiliki score 6.1 dan 5.3. Trend Indonesia cenderung meningkat jika dibandingkan dengan Singapore atau Malaysia, ataupun Hongkong dan Australia yang cenderung menurun. Belum tentu kualitas Pendidikan di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan score yang lebih tinggi seperti Singapore. Ada beberapa variabel pembanding lain; seperti luasnya wilayah RI, dengan luas daratan 1.916.862,20 km2 ; 17.504 pulau dan total jumlah penduduk 265.015,3 juta (Badan Pusat Statistik, 2019). Dibandingkan Singapore yang jumlah penduduk tahun 2018 sekitar 5.638.700 atau kurang dari 3% dari jumlah penduduk Indonesia serta luas wilayah yang kurang dari 2% luasan wilayah Indonesia. Hal ini membuat program pendidikan Singapore akan lebih mudah terjangkau.

Sumber : World Economic Forum (2017-2018)

Seberapa Handal Peneliti-Peneliti Kita?

Pertanyaan lainnya adalah seberapa handalnya peneliti-peneliti Indonesia berkolaborasi mengembangkan teknologi yang dibutuhkan kelima bidang tersebut. LIPI mislanya, sebagai lembaga penelitian pertama terbesar di Indonesia yang kini telah berafiliasi Internasional dengan kurang lebih 11 organisasi ilmiah antara lain ASEAN COST, Japan Society for the Promotion of Science (JSPS), Deutche Forschungsgemeninschaft (DFG), Berlin Museum Fur Naturkunde (BMFN), dll. Berdasarkan laporan kinerja (LKj) LIPI Tahun 2017 untuk sasaran pertama, yaitu meningkatnya kontribusi LIPI terhadap daya saing bangsa berbasis hasil penelitian memperoleh capaian rata-rata sebesar 116.08% pada tahun 2016. Trend pendaftaran paten LIPI pun meningkat dan berada pada peringkat 99 dari tahun sebelumnya (2015) diperingkat 102. Berdasarkan data dari Webometrics dan Google scholar yang dicantumkan dalam laporan kinerja LIPI, menunjukan capaian sitasi tergolong tinggi diatas sejumlah litbang.

Sumber : Laporan kinerja Tahun 2017 LIPI
Sumber : Laporan kinerja Tahun 2017 LIPI

Kemudian, apa yang telah dilakukan Pemerintah untuk mempercepat kesediaan SDM-nya dalam rangka Making Indonesia 4.0? Selain perbaikan infrastruktur dan perangkat pendidikan, sejak tahun 2010 Pemerintah dan DPR RI melalui UU No. 2 Tahun 2010 tentang APBN-P 2010 menyepakati Dana Pengembangan Pendidikan Nasional yang selanjutnya diejawantahkan melalui pemberian beasiswa kepada warga Negara Indonesia untuk melanjutkan studi di dalam maupun Luar Negeri, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Kanal beasiswa yang diberikan beragam, antara lain Beasiswa Indonesia Timur (BTI) dan Beasiswa Afirmasi percepatan daerah tertinggal yang bisa dimanfaatkan oleh pemuda pemudi yang berada di wilayah tersebut termaksud tentunya wilayah Papua dan Papua Barat. Lalu, Bagaimana dengan kontribusi Pemerintah daerah? misalnya Pemerintah Daerah Papua yang telah mempersiapkan Beasiswa khusus Orang Asli Papua seperti Beasiswa Otonomi Khusus (OTSUS) Papua, bahkan Gubernur Papua dalam LintasPapua.com (06/05/2019) menghadiri lulusan 7 mahasiswa asli Papua yang dilanjutkan dengan menggelar syukuran bakar batu bersama Rektor Universitas Corban Oregon Amerika.

 LPDP telah menyediakan bantuan beasiswa riset yang relevan dengan prioritas pembangunan; demikian pula sebut saja Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (KEMENRISTEK) yang menyediakan dana penelitian bahkan ada beberapa skema penelitian yang mengharuskan kolaborasi antar perguruan tinggi atau stakeholders lain. Making Indonensia 4.0 akan membuka peluang kerja bagi penduduk Indonesia dengan konsukuensi yaitu kesiapan sumber daya manusia dan kompetisi inovasi teknologi yang dihasilkan oleh para peneliti Indonesia. Siapkah kita berkontribusi? (/niv)

 

Referensi :

[1]  Badan Pusat Statistik. Trends of the selected Socio-Economic Indicators of Indonesia. Katalog BPS No. 3101015. Bulan Feb 2019. Jakarta –Indonesia (access: 08/05/2019, 19:00 Praha local time)

[2]   Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, http://www.kemenperin.go.id/artikel/18967/Making-Indonesia-4.0:-Strategi-RI-Masuki-Revolusi-Industri-Ke-4 (access : 08/05/2019, 20:26 Praha local time)

[3]   Kompas.com. 04/04/2018.  https://ekonomi.kompas.com/read/2018/04/04/134003826/5-industri-utama-disiapkan-untuk-revolusi-industri-40

[4]   LIPI. Laporan kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2016. Bulan Feb 2017. Jakarta-Indonesia   https://intra2.lipi.go.id/direktori/lakip/lipi1505217078.pdf (access : 09/05/2019, 20:26 Praha local time)

[5]   LintasPapua.com. https://lintaspapua.com/2019/05/06/gubernur-papua-lukas-enembe-hadiri-wisuda- mahasiswa-dan-bakar-batu-di-amerika/ (access : 09/05/2019, 15:53 Praha local time)

[6]  VOA Indonensia, https://www.voaindonesia.com/a/maria-dan-yafeth-mahasiswa-papua-di- universitas-corban-salem-oregon/4086364.html (access : 09/05/2019, 15:53 Praha local time)

[7]   World Economi Forum, reports.weforum.org/global-competitiveness-index-2017-2018/competitiveness-rankings/#series=GCI.B.05.02 (access: 08/05/2019, 15:00 Praha local time)

ditulis oleh:

 Sri Murniani Angelina Letsoin 

Awardee LPDP PK-102; berasal dari Merauke-Papua.

Alumni beasiswa Australian Leadership Award Fellowship (ALAF) tahun 2010. Saat ini, sedang menempuh pendidikan semester pertama, PhD Student, Engineering Faculty – Czech University of Life Sciences (CULS) Prague. (email : letsoin@tf.czu.cz

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*