Menabung Buku Di Rumah

Najwa Shihab melakukan wawancara dengan Maudy Ayunda, sambil tertawa riang mereka berdua berbagi nostalgia masa sekolah. Menurut mereka sekolah itu menyenangkan.

Investasi Masa Depan

Beberapa pihak menilai latar belakang Maudy sebagai seorang artis dan berasal dari keluarga kaya lah yang telah membuat dia sukses menggapai mimpinya. Banyak yang kemudian minder dan merasa tidak akan mampu bersaing.

Beberapa dekade silam, faktor latar belakang orang tua yang memiliki pendidikan tinggi dan pekerjaan mumpuni diyakini sebagai faktor utama keberhasilan anak di sekolah. Predikat ‘anak emas’ seringkali dianugrahkan kepada siswa yang mendapat perlakuan spesial oleh guru karena ia berasal dari keluarga terpandang. Teori ‘kelompok elite’ ini mengusung hipotesis bahwa guru bisa bersikap bias, dimana sang ‘anak emas’ akan menerima penghargaan lebih tinggi melebihi kemampuan anak sebenarnya. Logika yang sama juga berlaku atas dasar etnis, ras atau agama tertentu.  

Apakah teori ini benar? Jika ini benar, faktor latar belakang orang tua bukanlah hal yang mudah untuk dirubah dan tentu akan menyulitkan untuk anak dengan orang tua yang berlatar belakang sebaliknya. Selama bertahun-tahun peneliti di dunia pendidikan berupaya menemukan faktor lain yang mempengaruhi lingkungan belajar anak di rumah. Penelitian ini telah dilakukan di beberapa negara Barat, Eropa Timur, serta beberapa negara berkembang dan maju di Asia. 

Dalam studi perbandingan terhadap 42 negara, yang dipimpin oleh Profesor Evans, sosiolog dari University of Nevada US, ditemukan bahwa “anak yang dibesarkan dengan banyak buku di rumahnya, memiliki kesempatan sekolah 3 tahun lebih lama dibanding anak yang memiliki sedikit buku dirumahnya, terlepas dari tingkat pendidikan, pekerjaan ataupun kelas sosial orang tua anak tersebut”. Banyak buku yang dimaksud dalam penelitian ini adalah rata-rata 25 buku, tentu semakin banyak buku yang dimiliki semakin besar keuntungan yang diperoleh. Jadi kaya atau miskin, terpandang atau tidak terpandang,  bukanlah faktor penentu, melainkan ketersediaan buku di rumah lah yang menjadi kunci suksesnya.

Sayangnya buku adalah sebuah investasi berharga yang acapkali dianggap remeh kemampuannya. Orang tua lebih senang membelikan anaknya mainan ketimbang buku. Padahal buku menolong memperlengkapi anak dengan keterampilan yang anak akan butuhkan saat belajar di sekolah. Anak belajar kosakata baru, memahami bacaan, berimajinasi, dan memperluas pandangannya tentang sejarah ataupun keberagaman dari buku yang dia baca. Keterampilan kognitif dan kompetensi ini akan membuat anak percaya diri bahwa dia mampu untuk mengambil jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan mengatakan: “sekolah bagiku menyenangkan”.

Minat Baca

Namun apakah memiliki buku di rumah otomatis akan menaikkan minat anak terhadap membaca? “Tentu saja” menurut Clark dan Teravainen.

Dalam survey yang mereka lakukan pada Desember 2016, dengan jumlah responden sebanyak 42,406 anak berumur 8 hingga 18 tahun di Inggris, ditemukan bahwa 1 dari 11 anak tidak memiliki buku di rumahnya. Dan juga dari data yang berhasil dikumpulkan diperoleh hasil bahwa anak yang tidak memiliki buku jika dibandingkan dengan anak yang memiliki buku di rumahnya: memiliki minat baca sekitar empat kali lebih rendah, jarang membaca buku rutin setiap hari, dan memiliki skor membaca yang lebih rendah.

Anak yang memiliki buku dirumahnya cenderung menganggap bahwa buku adalah hiburan bagi mereka dan memilih untuk membaca buku di waktu luang mereka. Sedangkan anak yang tidak memiliki buku cenderung merasa bahwa membaca bukan kegiatan yang menyenangkan dan hanya akan membaca jika dalam keadaan terpaksa atau ada yang meminta mereka untuk membaca.  

Fakta di Indonesia

Pada kenyataannya bagi mayoritas keluarga di Indonesia, buku bukanlah investasi yang murah, sehingga banyak keluarga yang tidak memiliki buku dirumahnya. Skor membaca anak Indonesia pada test PISA (2009-12) dan PIRLS (2006-11) membuat Indonesia berada pada urutan ke 45 dari 61 negara, setidaknya bisa memberi kita gambaran tentang tingkat literasi kita.  

Di sebuah desa kecil di Palangka Raya, alih-alih buku di setiap rumah, saya menemukan bahkan di tingkat sekolah saja, ketersediaan buku berada pada kondisi genting. Di desa ini ada tiga sekolah dasar, dan mayoritas anak-anak belajar dengan menulis dan mendengarkan. Mengapa? Tidak ada buku paket tersedia, sehingga guru harus membacakan isi buku paket lalu diikuti dengan anak-anak menulisnya di buku mereka, barulah kemudian pelajaran dimulai. Apa yang sudah mereka tulis tersebut yang kemudian jadi bahan mereka untuk berdiskusi dan menjawab pertanyaan guru nantinya.

Ruang perpustakaan mereka menjadi satu dengan ruang guru. Hanya ada dua rak buku, setinggi dada orang dewasa dengan panjang sekitar 4 meter di dalam ruangan itu. Buku yang tersedia juga adalah buku terbitan lama, dengan warna gambar hitam putih mendominasi tiap halaman. Sekolah lain jauh lebih beruntung karena jumlah buku jauh lebih banyak, namun tetap saja tidak sesuai dengan rasio siswa yang dimiliki. Kondisi ini cukup sering saya temukan di beberapa sekolah yang saya tandangi di Kalimantan Tengah tempat saya mengabdi.   

Mengingat pentingnya buku bagi perkembangan kognitif dan kompetensi anak Indonesia, saya rasa kita perlu bersama bahu membahu dalam menolong anak-anak ini. Mata Garuda LPDP dengan program 1000 buku dan pemerintah dengan program Gratis Pos setiap tanggal 17 telah mempermudah kita melaksanakan hal ini. Saya berharap kedepan ada gebrakan lain yang ditawarkan pemerintah seperti subsidi buku bacaan anak sehingga memungkinkan setiap anak memiliki bukunya sendiri di rumah ataupun dari kalangan penerbit berupa variasi buku bacaan yang secara visual menarik dan bernuansa kisah lokal. Selamat hari buku. (/niv)

Ditulis oleh: Kristiani Natalina

Mahasiswa PhD University of Leicester, twitter: @NatalinaKris

 

Sumber

Clark, C. and Teravainen, A. (2017). Book ownership and reading outcomes. London: National Literacy Trust.

Evans, M. D., Kelley, J., Sikora, J., & Treiman, D. J. (2010). Family scholarly culture and educational success: Books and schooling in 27 nations. Research in social stratification and mobility28(2), 171-197.

Evans, M & Kelley, Jonathan & Sikora, Joanna. (2014). Scholarly Culture and Academic Performance in 42 Nations. Social Forces. 92. 1573-1605. 10.1093/sf/sou030.

Kraaykamp, Gerbert, and Paul Nieuwbeerta. 2000. “Parental Background and Lifestyle Differentiation in Eastern Europe.” Social Science Research 29:92–12

University of Nevada, Reno. (2010, May 21). Books in home as important as parents’ education in determining children’s education level. ScienceDaily. (Diakses 7 Mei, 2019 dari www.sciencedaily.com/releases/2010/05/100520213116.htm)

http://jatim.tribunnews.com/2019/03/24/dikenal-cerdas-maudy-ayunda-dan-najwa-shihab-ngaku-malah-senang-setiap-mau-ujian-kita-aneh-ya?page=3 (Diakses 7 Mei 2019)

https://www.ccsu.edu/wmln/rank.html (Diakses pada 4 Mei 2019)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*