Dokter Agoesdjam, Pahlawan yang terlupakan?

Gambar 2. Praktikum Anatomi di STOVIA sekitar tahun 1908, pada masa dr.Agoesdjam sedang menempuh pendidikan kedokteran.

Dokter Agoesdjam (Agusjam, menurut ejaan yang disempurnakan), nama yang mungkin asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Namun bagi warga Ketapang, nama ini sangat familiar karena namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit yakni RSUD dr.Agoesdjam Ketapang, Kalimantan Barat. Meskipun begitu, tidak banyak yang mengetahui tentang riwayat hidupnya.

Gambar 1. Foto dr. Agoesdjam. Koleksi keluarga dr.Agoesdjam.

Beliau adalah teman dr.Soetomo, tokoh pendiri Boedi Oetomo (Budi Utomo), organisasi pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia.1 Beliau masuk STOVIA, sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di Jakarta, pada tahun 1903 bersama 16 orang lainnya.2 Hal yang menarik adalah 5 dari 16 teman seangkatannya2,3 menjadi tokoh pendiri Boedi Oetomo yakni dr. Sutomo (Raden Soetomo), dr. Suradi (Soeradji), dr. Gunawan Mangunkusumo (Mas Goenawan Mangoenkoesoemo), dr. Moh. Saleh (Mas Mohamad Salech) dan dr. Sulaiman (Mas Soelaiman). Sedangkan 4 pendiri Boedi Oetomo lainnya terdiri dari 3 kakak kelas angkatan 1902 yakni dr. Goembreg (Raden Mas Gumbreg), dr. Suwarno (Gondo Soewarno) dan dr. Mas Suwarno (Mas Soewarno), dan 1 adik kelasnya di STOVIA angkatan 1904 yakni dr. Angka (Raden Angka).2,3 Selain itu, terdapat pula teman seangkatannya dari Ambon yang menjadi pahlawan pejuang kemerdekaan yakni Prof. dr. Jonas Andreas Latumeten (J.A. Latumeten). 2

Melihat sedemikian banyak temannya di STOVIA yang menjadi tokoh nasional, kenapa nama dr.Agoesdjam tidak pernah disebut dalam literatur sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan?  Dalam dalam buku “9 Tokoh Pendiri Boedi Oetomo”, semasa hidupnya para pendiri tersebut memang merahasiakan kegiatan mereka dalam pergerakan.3 Itulah sebabnya, anak-anak mereka pun tidak mengetahui bahwa ayahnya seorang tokoh pergerakan yang telah mengukir sejarah kebangkitan nasional Indonesia. Selama penjajahan Belanda, tokoh-tokoh tersebut memang selalu diawasi oleh badan-badan intelijen Belanda. Karena itu, wajar jika Soetomo dan teman-temannya tidak bercerita kepada anak cucu tentang kegiatan pergerakan yang mereka lakukan.3

Boedi Oetomo dideklarasikan pada tanggal 20 Mei 1908 di STOVIA, saat dr. Agoesdjam sedang menempuh pendidikan di STOVIA karena beliau baru lulus pada tanggal 8 Maret 1913.2 Pada masa itu semua siswa STOVIA tinggal di asrama yang menerapkan disiplin yang sangat ketat. Sebagai penghuni asrama, tentunya beliau juga pernah bertukar pikiran dengan teman-temannya mengenai perjuangan kemerdekaan Indonesia. Perbedaan suku agama dan budaya di antara pelajar STOVIA tidak menjadi penghalang, malah meningkatkan kesadaran persamaan nasib sebagai anak bangsa yang terjajah. 1,3 Penderitaan yang dialami masyarakat menjadi bahan diskusi utama, dan mereka pun mencari strategi untuk membebaskan masyarakat dari penderitaan. Para pelajar STOVIA itu menyadari bahwa perjuangan yang mengandalkan kekuatan fisik akan mengalami kegagalan. Oleh karena itu, mereka hendak mencoba perjuangan dengan kekuatan pemikiran. Organisasi Boedi Oetomo menjadi wadah perjuangan untuk membebaskan masyarakat dari penjajahan. Melalui Boedi Oetomo pula, perjuangan yang semula bersifat kedaerahan berubah menjadi bersifat nasional. 3

Gambar 2. Praktikum Anatomi di STOVIA sekitar tahun 1908, pada masa dr.Agoesdjam sedang menempuh pendidikan kedokteran.

 

Dokter Agoesdjam tentunya juga memiliki peran dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan beliau jarang terdengar oleh generasi saat ini dikarenakan jarang ada tulisan mengenai sosok beliau. Lahir dari kalangan bangsawan pada tahun 1888 di Pacitan (saat itu Karesidenan Madiun) dan masuk STOVIA pada tahun 1903.2 Pada usia 15 tahun, memulai pendidikan dan tinggal di asrama STOVIA dengan pelajar dari berbagai suku, bangsa, agama dan derajat sosial keluarga. Pada masa itu, para pelajar memulai pendidikan dokter pada usia yang relatif muda. Delapan dari 13 pelajar di angkatan beliau (1903) dilahirkan pada tahun 1888 dan lainnya dilahirkan antara tahun 1887-1889.2 Pendidikan di STOVIA kala itu selama 9 tahun yang yang tebagi menjadi 2 tahun perkenalan dan 7 tahun pendidikan kedokteran.2 Kehidupan di asrama STOVIA selama 9 tahun yang penuh suka dan duka menumbuhkan rasa persaudaraan di antara sesama pelajar. Rasa persaudaraan inilah yang kemudian berkembang menjadi kesadaran bersama sebagai satu bangsa. 1

Lulus sebagai dokter dari STOVIA, beliau pernah mengabdi di berbagai daerah antara lain Pontianak, Singkawang, Sambas dan perkampungan Dayak di pedalaman di Kalimantan Barat.5 Pada tahun 1943, beliau meninggalkan keluarganya di Pontianak dan berangkat ke Ketapang untuk menggantikan kedudukan menantunya yakni dr. Soeharso (dr. Suharso) yang pergi cuti ke Jawa. Pada suatu hari beliau kedatangan tamu yakni, teman-teman lamanya yang datang dengan sebuah perahu layar dari Jawa. Diperkirakan teman-temannya ini adalah para pejuang pergerakan kemerdekaan. Keramahtamahan beliau menerima tamu-tamu ini harus dibayar mahal. Sebab setelah teman-temannya berangkat, beliau dipanggil Kenpeitai-oho (Satuan Polisi Militer Jepang) dan tidak pernah kembali lagi ke rumah. Beliau didakwa ikut membantu gerakan subversi melawan balatentara dan Pemerintahan Dai Nippon (Penjajah Jepang). 5

 

Gambar 3. Peta persebaran dokter alumni STOVIA di Borneo (Kalimantan) pada tahun 1926. Tampak di Kalimantan terdapat satu dokter di Ketapang dan satu dokter di Pontianak.

Tidak ada catatan pastinya ke mana beliau dibawa oleh Penjajah Jepang. Dalam buku “Monumen Perjuangan Daerah Kalimantan Barat” dijelaskan bahwa pada zaman Penjajahan Jepang, tiap malam hari dilakukan penangkapan terhadap orang-orang yang kemudian diangkut dengan truk keluar kota.6 Kepala mereka diselubungi dengan kain hitam atau dalam istilah daerah disebut sungkup, disungkup dan kemudian dibunuh.6  Pembunuhan dilakukan di beberapa tempat antara lain di Mandor, Sungai Durian, Pontianak dan Ketapang. Pembunuhan besar-besaran terjadi pada tanggal 28 Juni 1944.6,7 Beliau pun menjadi korban kekejaman Jepang antara tahun 1943-1944 bersama-sama ribuan penduduk Kalimantan Barat dari berbagai profesi mulai dari dokter, pengacara, jurnalis,guru, cendekiawan, pemimpin politik sampai pengusaha beserta keluarganya serta berbagai suku dan etnis antara lain Melayu, Dayak, Tionghua, Jawa, Batak, dan Madura.8,9 Akibat kekejaman Jepang pada tahun 1943-1944, Kalimantan Barat kehilangan satu generasi emasnya.

Gambar 4. Koran Borneo Sinbun tertanggal 1 Sitigatu 2604 (1 Juli 1944) menyebutkan bahwa pada tanggal 28 Juni 1944, Raja (Panembahan dan Sultan) serta kaum intelektual telah dieksekusi oleh Jepang.

Demikianlah riwayat hidup dr. Agoesdjam, teman dr. Soetomo, sesama alumni STOVIA angkatan 1903. Harapan saya tulisan ini dapat menjadi rintisan untuk tulisan selanjutnya mengenai dr.Agoesdjam, pahlawan yang telah berjasa Indonesia, khususnya bagi warga Ketapang, Kalimantan Barat. Semoga kita generasi penerus bangsa senantiasa mengingat jasa dr. Agoesdjam dan para pendahulu kita yang telah berjuang demi kemerdekaan bangsa dan negara. Mari kita terus berjuang untuk masa depan bangsa dan negara tercinta, Indonesia Raya!

 

Referensi:

  1. Anonim, 2018, Buku Panduan Museum Kebangkitan Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktoral Jenderal Kebudayaan Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta.
  2. Tjahjo Peornomo, 2014, “Perkembangan Pendidikan Kedokteran di Weltevreden 1851-1926”, Museum Kebangkitan Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
  3. Mayasari Sekarlaranti, Ananda Feria Moersid dan Agus Saryadi, 2014, “9 Tokoh Pendiri Boedi Oetomo”, Museum Kebangkitan Nasional berkerja sama dengan Paguyuban Pengemban dan Penerus Cita-cita Boedi Oetomo, Jakarta, 2014.
  4. Rusdy Hoesein dan Muzakkir Tanzil, Sejarah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (http://fk.ui.ac.id/sejarah.html, diakses tanggal 6 Agustus 2018).
  5. Anonim, 1968, Dokter R. Agoesdjam, Dokumen Manajemen RSUD dr.Agoesdjam, Jakarta.
  6. Djamhari, S.A, Soemardi, S. Buraidah A, dan Soenarno, 1987, Monumen Perjuangan Daerah Kalimantan Barat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejara dan Nilai Budaya, Jakarta.
  7. Kamsyah, 2017, 28 Juni, Hari Berkabung Daerah Kalbar. (https://www.kalbartoday.com/28-juni-hari-berkabung-daerah-kalbar.html, diakses tanggal 14 Agustus 2018).
  8. Lindsey, T., Pausacker, H., 2005, Chinese Indonesians: remembering, distorting, forgetting, Institute of Southeast Asian Studies, Singapore.
  9. Barbara Crossette, 1987, The Mystery in Borneo at ‘The Massacre Place’, The New York Times, New York.

 

Ditulis oleh dr.Simon Yosonegoro Liem, awardee LPDP PK-113, di Jakarta, 7 Agustus 2018.

Penulis adalah seorang dokter yang lahir dan dibesarkan di Ketapang, Kalimantan Barat. Nyawa penulis pernah diselamatkan pada usia 10 tahun di RSUD dr. Agoesdjam. Sejak saat itu, penulis bertekad menjadi dokter untuk menolong sesama. Lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) tahun 2008, penulis pun langsung pulang mengabdi di RSUD dr.Agoesdjam. Pada tahun 2018, penulis melanjutkan pendidikan spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) yang adalah kelanjutan dari STOVIA, almamaternya dr.Agoesdjam. Adik kandung neneknya penulis juga menjadi korban penjajahan Jepang antara tahun 1943-1944 yang namanya tertulis dalam Makam Juang Korban Pembunuhan Jepang di Ketapang, Kalimantan Barat.

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*