Menuju Kemerdekaan Keilmuwan

Walaupun semakin banyak orang Indonesia belajar di luar negeri, mereka yang ada di bidang ilmu sosial menulis hampir secara eksklusif tentang negaranya sendiri, Indonesia. Hanya tinggal segelintir ilmuwan di universitas di Indonesia yang meneliti dan mengajar tentang negara selain Indonesia. Namun hampir 90% karya tertulis tentang Indonesia di jurnal-jurnal akademis internasional ditulis oleh orang yang tidak tinggal di Indonesia – sesuatu yang membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang paling tidak efektif di dunia dalam menjelaskan dirinya kepada dunia.

 

“Sindiran” ini ditulis oleh ilmuwan Asia Tenggara kenamaan, Prof. Anthony Reid, dalam tulisannya “Indonesia dan Dunia Sesudah 66 Tahun” yang dimuat oleh Majalah Tempo Edisi 14-20 November 2011 agaknya bisa membuka misteri kenapa negeri yang kaya raya ini tidak kunjung beranjak dari keterpurukan di berbagai bidang. Padahal puluhan ribu doktor tersebar di berbagai institusi baik pendidikan, pemerintahan maupun swasta. Tetapi kenapa kekuatan mereka “tidak mampu” menggerakkan lini-lini kehidupan dan membawa masyarakat ke arah yang lebih baik?

Majalah Tempo Edisi 14-20 November itupun mamaparkan nasib berbagai pusat-pusat studi Indonesia di Luar Negeri seperti Universitas Leiden Belanda, Universitas Cornell USA, dan Universitas Monash Australia yang mulai sepi dan tak lagi diminati. Yang paling mencenggangkan adalah penutupan KITLV yang menjadi pusatnya berbagai publikasi dan koleksi tentang Indonesia karena pemerintah Belanda melakukan pemotongan anggaran yang sedemikian besar.

Tahun 1960-1970-an Indonesia dianggap sebagai tempat penelitian yang seksi dikarenakan pertarungan Liberalisme dengan Komunisme begitu tajam kala itu. Tapi pasca Reformasi, dana penelitian dan jumlah peneliti asing tentang Indonesia mulai berkurang baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Dana-dana penelitian untuk Indonesia tak terlalu besar, karena para master dan doktor Indonesia lulusan luar negeri dianggap sudah “cukup” untuk menjalankan misi dan keinginan para punggawa kebijakan luar negeri di negara-negara “maju” sana. Namun, seperti kritik Reid, sebagian besar mereka tak mampu menjadi “duta” yang “bisa” menjelaskan Indonesia kepada dunia. Karena apa yang sampaikan hanya replika dengan sedikit modifikasi dari pemikiran-pemikiran orang asing.

Secara konstruktif, apa yang disampaikan oleh Reid ini seharusnya menjadi renungan bagi “orang-orang terdidik” di negeri ini untuk merumuskan identitas pemikiran mereka sendiri, dan merubah paradigma pengambilan riset. Ahli gamelan seharusnya orang Jawa bukan orang Belanda. Ahli sejarah manusia Minangkabau mestinya orang Minang, bukan orang Amerika. Ahli manusia Bugis selayaknya adalah orang Bugis, bukan orang Perancis. Di sisi pemilihan tema riset, mahasiswa-mahasiswa Indonesia harus berani. beralih ke tema-tema persoalan negara tempat mereka sedang menempuh studi. Ketika sisi-sisi positif dan negatif negara lain diketahui, maka peluang untuk mengadakan reflektif positif lebih besar daripada meneliti negeri sendiri kemudian hanya sekedar dibedah dengan metode-metode Asing.

Dua tantangan ini merupakan sebuah tugas berat. Tidak saja dari sisi “penyakit kronis” inlander yang masih membelit banyak orang di negeri ini, tetapi dari persoalan finansial, dimana pemberi donasi cenderung memberikan persyaratan pemilihan penelitian yang menguntungkan mereka. Sanggupkah kita segera sembuh dari belitan mental inlander itu? Kuatkah pemerintah memberikan beasiswa-beasiswa kepada putra-putri terbaik negeri ini dengan misi alih pengetahuan untuk kemajuan negeri dan sedikit demi sedikit memutus pemberian beasiswa asing yang punya “tendensi”?

Untuk mengatasi persoalan-persoalan di atas paling tidak ada 2 program yang bisa dilakukan: Menghidupkan Penerbitan Kampus dan Menjadikan Indonesia sebagai Eksportif Jurnal Internasional.

 

MENGHIDUPKAN PENERBITAN KAMPUS

Di sela-sela Frankfurt Book Fair 2014 (8-12 Oktober), saya berbicara serius dengan seorang dosen sebuah kampus negeri di pulau Sumatera yang sedang mengambil Ph.D bidang Kimia di Heidelberg University Jerman. Beliau mengeluhkan masih terpinggirkannya buku-buku akademis di pasar buku di Indonesia.

Frankfurt Book Fair merupakan pameran buku tahunan terbesar sedunia. Dimana semua penerbit dari seluruh dunia datang tidak saja memamerkan produk-produk mereka tetapi juga saling bertransaksi lewat jual-beli copyright.

Tidak banyak yang tahu, selain IKAPI yang menaungi seluruh penerbit di Indonesia, pada tahun 2010 didirikan Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) dengan anggota lebih dari 100 penerbit kampus dari Sabang sampai Merauke. Tetapi gaungnya sampai sekarang tenggelam di bawah riak penerbit-penerbit swasta yang lebih bersemangat melihat peluang pasar buku-buku akademik. Seperti Pustaka Pelajar di Yogyakarta yang intens menerbitkan text book baik dari ahli-ahli Indonesia maupun menerjemahkan buku-buku akademik profesor luar negeri. Ataupun Rosdakarya Bandung yang sampai saat ini masih mendapat profit luar biasa dari penjualan “buku jadul” Psikologi Komunikasi Jalaluddin Rakhmat.

Meskipun banyak yang pesimistis dengan pangsa pasar buku-buku akademik termasuk juga terjangan open access, saya menyaksikan sendiri bagaimana penerbit-penerbit kampus kenamaan dunia seperti University of Oxford dan University of Cambridge begitu sibuk dengan agenda-agenda pembicaraan jual–beli copyright selama Frankfurt Book Fair 2014 berlangsung. Di Hall 3 yang dikhususkan untuk penerbit-penerbit Jerman, saya pun terkesima bagaimana buku-buku berat filsafat karya Habermas, Adorno, dan para filsuf Mahzab Baru Frankfurt dikerubungi oleh para pengunjung. Termasuk juga bagaimana penerbit buku-buku akademik dari Belanda seperti Brill dan Elsevier masih terus melejit dalam penjualannya.

Berkaca dari data Kemenristek Dikti, pada tahun 2017 tercatat jumlah mahasiswa terdaftar di seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia sebanyak 6.924.511. Angka ini akan bertambah kalau ditambah dengan puluhan ribu mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan tinggi di kampus-kampus luar negeri. Sebenarnya kita perlu optimis bahwa penerbitan buku-buku akademik sebenarnya bisa diserap komunitas kampus. Apalagi sekarang pola pendidikan tinggi yang menganut sistem Student Center Learning “memaksa” mahasiswa harus mengakses sebanyak mungkin referensi baik untuk pembuatan makalah maupun tugas akhir.

Ketergantungan kepada buku-buku terjemahan karena kemampuan bahasa asing terutama bahasa Inggris yang selama ini dilirik oleh penerbit-penerbit swasta juga menjadi peluang bisnis besar bagi penerbitan kampus untuk membuat semacam buku-buku babon dalam penjelasan konsep-konsep keilmuan lewat kehadiran karya-karya akademisi yang mereka miliki. Akan tetapi menurut penulis, kerja-kerja penerjemahan biarlah tetap dikerjakan dan menjadi lumbung finansial buat penerbit-penerbit swasta. Penerbit kampus sesuai dengan habitatnya sebagai center of excellence sebaiknya lebih memokuskan diri pada produksi keilmuan dengan buku-buku hasil karya para dosen-dosen dan tenaga peneliti internalnya. Agar hasil-hasil riset anak bangsa di perguruan tinggi bisa dikenalkan ke publik internasional dalam rangka kontestasi keilmuan secara global. Sekaligus menjawab kritikan pakar terkemuka dalam kajian Asia Tenggara, Prof. Anthony Reid, terkait masih belum suksesnya Indonesia dalam menggambarkan dirinya sendiri ke dunia karena kebanyakan karya-karya seputar Indonesia didominasi oleh para peneliti dan akademisi asing.

Kita sangat berharap, berbagai terobosan yang dilakukan oleh Kemenristek Dikti bisa memberikan harapan baru bagi university press di Indonesia. Bangkit dari sekedar lembaga pendukung yang hidup enggan mati tak mau menjadi sebuah lokomotif civitas akademisi untuk menyuarakan ide-ide cemerlang dari hasil penelitian yang dilakukan lewat penerbitan-penerbitan buku yang mampu mewarnai dunia akademis internasional dan memberikan sumbangsih praksis dalam kehidupan kemanusiaan.

 

MENJADIKAN INDONESIA SEBAGAI “EKSPORTIR” JURNAL INTERNASIONAL

Pendapatan akumulatif yang bisa didapatkan oleh 1000-an penerbit di Indonesia pada tahun 2013 hanya 700 miliar rupiah. Bandingkan dengan raihan satu penerbit internasional yang berbasis di Belanda yang bernama Elsevier yang bisa mengumpulkan uang 27 triliyun rupiah pada tahun 2013. “Main business” Elsevier adalah publikasi akademik baik dalam bentuk buku maupun jurnal terutama lini bisnisnya yang bernama Scopus.

UGM saja menghabiskan lebih dari 5 miliar rupiah setiap tahun untuk langganan jurnal internasional. Belum lagi jika kita akumulasikan dengan anggaran pembelian jurnal internasional oleh ribuan kampus negeri dan swasta yang ada di Indonesia.

Saya malah berpikir, kalau pemerintah serius membuat komite jurnal internasional, kita akan berkembang menjadi negara sebagai pengekspor jurnal, bukan malah menjadi negara yang memenjarakan diri dengan peraturan “jurnal internasional” untuk para dosen dan peneliti. Sebuah kebijakan yang sebenarnya memperkaya penerbit-penerbit besar di luar negeri.

Okey lah, para dosen dan peneliti kita masih terkendala dengan bahasa Inggris. Kenapa tidak dibuat program pengkaderan “5000 editor” yang memiliki kemampuan academic writing dan penerjemahan yang bagus serta dilengkapi pengetahuan di bidang keilmuan tertentu?

Kalau pemerintah serius dengan agenda menjadi “eksportir jurnal internasional”, program ekspor jurnal internasional ini akan menjadi devisa negara dan bisa mengalahkan raihan laba yang bisa dihasilkan oleh banyak BUMN yang tak sampai 1 triliyun per tahun.

Dibandingkan 73 tahun yang lalu, jumlah teknokrat, pemikir, ilmuwan dan kaum terdidik kita hari ini jauh berkali-kali lipat. Apalagi pemerintah sangat serius memperhatikan pemberian beasiswa pendidikan dan riset melalui LPDP. Mudah-mudahan LPDP bisa menggerakkan seluruh elemen di negeri ini untuk mewujudkan “kemerdekaan keilmuan”. Sebagaimana yang disampaikan oleh Bung Hatta,

“… Merdeka tidak tergantung pada jumlah jiwa yang melek huruf, tetapi pertama-tama adalah soal adanya lembaga-lembaga demokrasi dan semangat kaum intelektualnya…..”

 

 

 

Sumber Bacaan:

 

Profil Penulis:

Anggun Gunawan merupakan anak muda kelahiran Kepala Hilalang Pariaman Sumatera Barat, 23 November 1984. Ia meraih gelar sarjana filsafat dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada Februari 2010. Saat ini menjadi CEO Gre Publishing, sebuah penerbitan yang mendedikasikan diri untuk menerbitkan buku-buku ilmiah dan karya-karya inspiratif para intelektual Indonesia dengan home base di Yogyakarta. Pada tahun 2014 ia terpilih menjadi salah satu delegasi Indonesia untuk pameran buku terbesar di dunia, Frankfurt Book Fair 2014 dan di tahun 2018 menjadi delegasi Indonesia untuk Kuala Lumpur International Book Fair. Saat ini ia menunggu keberangkatan untuk melanjutkan studi S2 bidang penerbitan di jurusan MA in Publishing Media Oxford Brookes University UK pada September 2019 setelah terpilih sebagai awardee LPDP seleksi 2017. Ia merupakan salah satu keluarga PK-124 LPDP.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*