11 buku Ekonomi Inovasi dan Manajemen Teknologi yang Layak Dibaca

Rasanya kurang elok jika tidak membagikan beberapa rekomendasi bacaan yang berkaitan dengan bidang yang saya geluti selama hampir dua tahun ini. Secara sponsor utama studi saya adalah uang rakyat yang dikelola oleh pemerintah melalui beasiswa LPDP.

Jadi ceritanya dua tahun ini saya mengambil program master Innovation Sciences di TU Eindhoven. Berikut beberapa buku pop yang sempat saya baca yang ada kaitannya baik secara langsung maupun tidak langsung dengan studi saya. Kebanyakan berkaitan dengan ekonomi inovasi, bidang konsentrasi yang jadi fokus saya. Tapi ada juga beberapa yang lebih mikro di level manajerial. Semua bukunya saya rekomendasikan untuk Anda yang suka dengan topik inovasi. Sebagian saya dapatkan ebook-nya yang tersedia bebas, sebagian saya dapatkan dari teman yang jago hunting ebook, sebagian lainnya terpaksa saya beli dengan tunjangan buku dari LPDP.

Doakan mudah-mudahan suatu hari saya bisa membuat resensi lengkapnya. Namun jikapun tidak, review berkelasnya akan mudah ditemukan di New York Times, Independent, atau the Guardian.

 

1. The Shock of the Old (2006)

shock-of-old
Ditulis oleh sejarawan David Edgerton. Dengan melihat dari perspektif sejarah, Edgerton menekankan bahwa teknologi tidak melulu tentang penemuan baru (invention-centric). Lebih dari itu, teknologi adalah tentang penggunaannya di masyarakat (use-centric). Artinya, seringkali teknologi jadul lebih berpengaruh daripada penemuan baru yang terkesan canggih dan menjanjikan. Itulah mengapa ia memberi judul bukunya ‘guncangan dari teknologi jadul’. Sebagai contoh, setelah penemuan kereta api dan mobil di awal abad keduapuluh, penggunaan kuda sebagai alat transportasi justru semakin meningkat. Begitu pula dengan radio dan televisi di masyarakat grassroot yang masih eksis hingga sekarang sekalipun spotify dan youtube telah menjangkau mereka. Edgerton mengajak para pembacanya untuk menempatkan teknologi pada tempatnya. “History is changed when we put into it the technology that counts: not only the famous spectacular technologies but the low and ubiquitous ones.”

 

2. Democratizing Innovation (2005)

democratizing-innovation

Dituliis oleh Eric von Hippel, pakar teknologi inovasi dari MIT. Buku ini mengangkat peran sentral ‘lead user’ sebagai pelaku utama proses inovasi. Para lead user (dalam teori lain ada yang mengistilahkannya early adopter) ini sebagai pengguna awal teknologi baru seringkali memodifikasi dan bereksperimen dalam penggunaannya. Inilah makna demokratisasi inovasi: bahwa inovasi hari ini dikembangkan juga oleh para pengguna, bukan hanya oleh perusahaan dan pabrik sebagai produsen. Maka dari itu setelahnya muncul istilah co-creation, Von Hippel menekankan agar perusahaan juga turut melibatkan user dalam proses inovasi produk mereka. Seringkali user memiliki masukan yang sangat berguna untuk produk mereka di masa depan.

 

3. Nudge (2008)

nudge
Ditulis oleh Richard Thaler seorang behavourial economist dari University of Chicago dan Cass Sunstein yang merupakan penasihat politik Obama. Nudge sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan bidang inovasi. Buku ini memperkenalkan konsep nudge(terjemah: dorongan ringan, sentuhan) sebagai upaya untuk mempengaruhi keputusan orang lain tanpa paksaan. Konsep ini bisa dipakai untuk pengambil kebijakan maupun desainer produk. Di awal bukunya, mereka mengenalkan istilah paradoks manusia sebagai libertarian paternalis: di satu sisi manusia adalah sosok yang punya kehendak bebas, tetapi di sisi lain manusia perlu diarahkan (atau dipaksa) untuk menentukan keputusan terbaik. Disinilah konsep nudge hadir. Sang ‘arsitek’ (bisa jadi pembuat kebijakan atau desainer produk) bisa merekayasa pilihan-pilihan yang ada bagi kustomernya agar ia memilih apa yang diinginkan oleh sang arsitek tanpa harus memaksa mereka. Sebagai contoh, saat kita meng-install suatu software biasanya kita memilih setting-an default karena dinilai praktis. Tanpa sadar dalam setting-an tersebut tersisip juga aplikasi browser bawaan dari perusahaannya (i.e sang arsitek) yang jadinya ikut ter-install. Beginilah cara kerja nudge. Dengan asumsi manusia bukan makhluk econs yang selalu rasional dalam setiap keputusan, seringkali manusia sebagai humans membuat sebuah keputusan dengan alasan manusiawi.

 

4. The Rational Optimist (2010)

rational-optimist

Ditulis oleh Matt Ridley, saya membeli buku ini atas rekomendasi dari Mark Zuckenberg. Ridley membahas kaitan manusia dan teknologi sejak zaman pra-sejarah. Ia menekankan peran pertukaran (exchange) dan spesialisasi sebagai unsur utama proses inovasi dan perubahan teknologi. Manusia sejak zaman pra-sejarah mempunyai spesialisasi keterampilan yang berbeda satu dengan lainnya. Sebagai contoh, seseorang ahli membuat senjata dan seseorang ahli berburu. Kemudian, yang menjadikan mereka dapat bertahan hidup adalah adanya konsep pertukaran (exchange), si pembuat senjata memberikan alat kepada si pemburu dengan hasil tangkapan sebagai barternya. Inilah yang menjadikan manusia dapat bertahan hidup dan bahkan menguasai peradaban hingga hari ini. Maka Ridley melihat dunia hari ini dan menatap masa depan dengan penuh optimisme. Berbagai permasalahan yang ada (pemanasan global, kemiskinan, wabah penyakit, dll) dapat dientaskan oleh inovasi yang ditopang oleh spesialisasi keahlian dan kolaborasi para aktornya.

Buku ini berkaitan erat dengan paradigma dasar evolutionary economics yang jadi akar bidang keilmuan saya. Evolutionary economics menempatkan inovasi dan perubahan teknologi sebagai aktor utama pertumbuhan ekonomi (makanya sering juga disebut Neo-Shumpeterian). Menurut para ekonomis dengan mazhab ini, evolusi tidak hanya terjadi secara genetis. Lebih dari itu, manusia justru dapat berkembang karena evolusi kebudayaan yang kecepatannya jauh melebihi evolusi genetis. Secara sederhana, manusia melakukan transfer kebudayaan baik itu nilai maupun keterampilan (dalam hal ini teknologi jadi bagian tidak terpisahkan dari budaya) lintas generasi. Artinya, teknologi yang ada hari ini merupakan akumulasi dari pewarisan teknologi-teknologi masa lalu (path dependency). Selain itu, sama halnya dengan evolusi genetis, evolusi teknologi juga mengalami mekanisme seleksi, mutasi dan replikasi. Mereka yang bertahan dalam seleksi alam lah yang pada akhirnya menjadi pemenang pasar.

 

5. The Innovator’s Dilemma (1997)

innovators-dilemma

Ditulis oleh Clayton Christiansen, seorang pakar bisnis dari Harvard. Meski hampir berusia dua puluh tahun, buku ini jadi buku wajib bagi yang suka topik inovasi, relevan baik bagi praktisi bisnis maupun akademisi. Christiansen mengenalkan konsep disruptive innovation, dimana penemuan baru dari suatu pendatang dapat merusak tatanan pasar yang dikendalikan para pemain lama (inkumben). Gara-gara inovasi ini, inkumben yang melakukan rutinitas business as usual harus tersingkir dari pasar. Contohnya banyak, dari mulai HP Nokia, kaset dan CD, dan kamera Kodak menjadi korban disrupsi para pendatang baru. Setelah menjelaskan fenomena disrupsi, Christiansen kemudian memberikan beberapa panduan bagi para inkumben untuk mengelola perubahan dan bersaing dengan disrupsi teknologi dari para kompetitornya. Sebetulnya ide Christiansen tentang disruptive innovation bukan barang baru. Ia berusaha mengelaborasi konsep penghancuran kreatif (creative destruction) yang dikenalkan oleh Joseph Schumpeter di tahun 1950an. Schumpeter-lah yang pertama kali mengetengahkan peran inovasi dan entrepreneurship sebagai penggerak utama sekaligus penghancur bagi kapitalisme.

 

6. The Wide Lens (2012)

the-wide-lens

Ditulis oleh Ron Adner, seorang professor di bidang entrepreneurship. Adner memperkenalkan perspektif baru bagi para innovator untuk menggunakan lensa yang lebih luas agar bisa menemukan blind spot yang sebelumnya tidak terlacak. Artinya, para pelaku inovasi harus juga memperhatikan sejauh mana kesuksesan inovasi yang ia ciptakan dapat dipengaruhi oleh kesuksesan inovasi lainnya. Contoh ekstremnya, percuma apabila kita mengembangkan industri helm di suatu kota yang tidak banyak sepeda motornya. Atau yang lebih menarik, contoh yang dikemukakan Adner tentang kegagalan HDTV (high definition TV) dari Philips di akhir tahun 1980an. Masalahnya adalah industri pertelevisian belum bisa menyediakan kamera yang mendukung kualitas gambar di HDTV hingga tahun 2000an. Maka dari itu Adner menekankan pentingnya innovator menyesuaikan strategi inovasinya dengan ekosistem inovasi tempat berinteraksi dengan industri lain. Buku ini juga banyak mengelaborasi konsep ekosistem inovasi yang jadi tren di dunia inovasi hari ini.

 

7. Entrepreneurial State (2011)

entrepreneurial-state

Ditulis oleh Mariana Mazzucato seorang pakar ekonomi inovasi dari SPRU University of Sussex. Buku ini mengetengahkan peran pemerintah (dalam hal ini U.S.) sebagai aktor utama proses inovasi di suatu Negara. Mazzucato berusaha meruntuhkan mitos tentang sektor privat yang mempunyai saham terbesar dalam proses inovasi. Sebaliknya, ia beranggapan negaralah justru yang selama ini berinvestasi besar terutama di bidang basic research yang identik dengan investasi berisiko tinggi. Menurutnya, pemerintah U.S yang selama ini diklaim sebagai pemerintah yang liberal justru merupakan Entrepreneurial State yang aktif terlibat dalam proses R&D. Ia mengambil ilustrasi perusahaan Apple Inc yang memiliki pengeluaran riset relatif rendah dibandingkan dengan perusahaan teknologi lainnya. Menurutnya, yang Apple lakukan hanyalah fokus kepada desain dengan mengkolaborasikan inovasi-inovasi yang telah ada sebelumnya. Apple dimanjakan oleh inovasi yang diciptakan oleh pemerintah US. Faktanya, teknologi internet, GPS, touch screen, bahkan Siri merupakan teknologi yang telah dikembangkan oleh NASA atau Militer US sebelumnya.

 

8. Capital in the 21st Century (2013)

capital-21st-century
Ditulis oleh Thomas Piketty, ekonom asal Prancis yang awalnya saya kira akan mendapatkan nobel tahun lalu. Bukunya meraih perhatian banyak pihak sampai-sampai The Economist secara lebay menjulukinya sebagai ‘a modern Marx’. Sebenarnya buku ini tidak berkaitan langsung dengan inovasi. Piketty mengangkat isu ketimpangan kekayaan dan pendapatan yang semakin tinggi di Negara-negara maju sejak abad ke-18. Menurutnya, ketimpangan ini disebabkan oleh akumulasi kekayaan pada segelintir orang dalam jangka panjang. Argumennya yang populer adalah ketimpangan akan terus meningkat apabila imbal modal (rate of return) yang hanya dinikmati oleh segelintir orang lebih besar daripada tingkat pertumbuhan ekonomi (growth) yang dinikmati oleh mayoritas pekerja. Piketty mengusulkan system pajak progresif untuk kekayaan/warisan sebagai solusi bagi ketimpangan ini.

Apa kaitan buku fenomenal ini dengan inovasi dan perubahan teknologi? Pertama, Piketty membantah teori kesenjangan yang populer diperkenalkan oleh Simon Kuznett. Menurut Kuznett, kesenjangan ekonomi akan sejalan kurva U terbalik dengan GDP sebagai x-aksisnya. Artinya, di saat suatu Negara mulai berkembang kesenjangan ekonomi akan meningkat. Peningkatan ini beriringan dengan perubahan struktur ekonomi dari agraris menjadi berbasis industri yang ditopang oleh perubahan teknologi. Lama kelamaan, seiring dengan stabilnya industri dan majunya Negara tersebut, kesenjangan lambat laun akan menurun. Memang teori ini secara empiris terbukti hingga tahun 70an. Namun, selama 30 tahun terakhir kesenjangan di Negara maju malah semakin meningkat. Maka dari itu, Piketty menyebut teori Kuznett sebagai ‘a fairy tale’.

Kedua, Piketty juga memandang, ketimpangan kekayaan yang terkumpul hanya pada segelintir orang hari ini, selain ditopang oleh faktor kekayaan warisan, juga didukung oleh munculnya para supermanager yang penghasilannya jauh melebihi orang kebanyakan. Fenomena supermanager ini tidak bisa dipisahkan dari peran sentral teknologi khususnya teknologi informasi. Digitalisasi membuat kompensasi para CEO dan supermanager melonjak jauh lebih tinggi dari era sebelumnya.

 

9. The Second Machine Age (2014)

second-machine-age

Ditulis oleh Erik Brynjofsson dan Andrew McAfee, keduanya merupakan pakar kebijakan inovasi dan teknologi informasi dari MIT. Mereka mengangkat peran revolusi digital (second machine age, setelah revolusi industri as the first) meliputi komputer, software, dan jaringan komunikasi yang membentuk ekonomi global hari ini. Seiring dengan ramalan Moore bahwa kecepatan komputer akan berlipat setiap dua tahun, teknologi informasi tumbuh dengan kecepatan eksponensial: menghasilkan peningkatan produktivitas dan efisiensi di satu sisi tetapi meninggalkan beberapa implikasi di sisi lain. Teknologi membawa kebaikan kepada manusia, memberikan semakin banyak pilihan untuk mereka.

Namun, Brynjofsson dan McAfee juga menggambarkan beberapa tantangan akibat digitalisasi. Mereka mengulas kembali teori lama mengenai ‘Skill biased technical change’: bahwa manfaat perubahan teknologi bisa jadi hanya dirasakan sebagian orang, yaitu buruh terdidik dan terampil yang bisa beradaptasi dengan perubahan teknologi. Maka mereka yang memiliki tidak terampil akan tertinggal, menyisakan kesenjangan ekonomi yang kian lebar. Lebih jauh, mereka juga mengangkat fenomena pengalihan akumulasi pendapatan dari buruh kepada pemilik modal karena teknologi hanya dikuasai oleh segelintir orang. Selain itu, jumlah superstar di bidang lain pun meningkat seiring dengan perubahan teknologi yang membuka akses pasar dan sumber daya yang lebih luas. Muncullah J.K. Rowling, Christiano Ronaldo, atau Beyonce yang pendapatannya jauh di atas median populasi. DI akhir, penulis mengemukakan beberapa rekomendasi untuk mewujudkan inovasi yang inklusif, di antaranya berupa solusi normatif semisal pentingnya membuka akses pendidikan bagi masyarakat dan membangun semakin banyak startups untuk menciptakan lapangan pekerjaan.
10. The Rise of Creative Class (2012)

rise-of-creative-class
Ditulis oleh Richard Florida, seorang ekonom asal University of Toronto Kanada pertama kali tahun 2002. Saya membaca edisi revisited-nya yang terbit sepuluh tahun kemudian. Florida memperkenalkan terminologi ‘kelas kreatif‘ sebagai anggota kelas baru (yang sebenarnya tidak baru-baru amat) dalam struktur masyarakat urban US (dan juga dunia). Mereka, yang jumlahnya tumbuh mencapai 30 persen populasi US ini, adalah kelas menengah mayoritas yang mendominasi dunia kita: para pekerja di bidang industri kreatif, bisnis/service, finansial, dan industri digital. Merekalah yang menjadi aktor utama pembentukan ekonoomi kreatif di area metropolitan. Dalam bukunya, Florida menjelaskan tren fenomena pertumbuhan kelas kreatif ini diserta konsekuensi-konsekuensi negatif yang terjadi sebagai akibatnya.

Ada satu lagi yang menarik dari konsep kelas kreatifnya Florida. Ia menciptakan dua buah indikator yang menjadi alasan suatu kota bisa meng-attract kelas kreatif dan memanfaatkan kreativitas mereka untuk pertumbuhan ekonomi. Pertama, adalah gay-index. Menurutnya, kota yang kreatif dicirikan dengan tingginya penerimaan masyarakat terhadap kaum LGBT. Maksudnya, indikator tersebut mencirikan suatu kota sangat terbuka dengan beragam perbedaan yang ada. Mengingat salah satu pra-syarat proses inovasi dan kreativitas adalah kolaborasi, maka diversitas menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan. Kedua, adalah bohemian index, suatu indikator yang menunjukan tingkat konsentrasi seniman jalanan, penulis, dan pelaku dunia hiburan di suatu kawasan urban. Indikator ini juga menunjukan bahwa kota kreatif membutuhkan suasana ceria yang nyaman untuk ditinggali oleh para kelas kreatif.

 

11. Rise of the Robots (2015)

rise-of-the-robot
Buku terakhir yang saya rekomendasikan adalah buku terbaru karya Martin Ford, seorang entrepreneur digital dari Silicon Valley. Ford mengungkap fenomena munculnya robot dan proses digitalisasi yang ‘mengancam’ eksistensi manusia di masa kini dan yang akan datang. Komputer bisa menggantikan pekerjaan ‘rutin’ seorang sekretaris atau akuntan. Bahkan, pekerjaan yang lebih canggih sekalipun dapat terancam oleh komputer dengan mempelajari pola-polanya dari big data yang tersedia. Sebagai contoh, Ford memberikan kemungkinan peran seorang radiolog yang membutuhkan keterampilan tinggi dalam membaca gambar medis akan dapat tergantikan oleh komputer di masa depan. Ancaman digitalisasi, komputerisasi, dan teknologi informasi ini berbeda dengan ancaman revolusi industri di masa lalu yang bersifat temporer. Sebagian buruh menganggur akibat mekanisasi, tetapi kemudian muncul lapangan pekerjaan baru di sektor lain. Kali ini, Ford dengan pandangan pesimisnya, mengatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baru akan sulit tercipta mengingat teknologi informasi adalah teknologi umum yang cakupannya luas melintasi berbagai sektor pekerjaan.

Tidak banyak solusi yang ditawarkan Ford dalam buku ini. Malah ia mengangkat solusi konservatif berupa jaminan penghasilan minimum kepada para buruh (a.k.a UMR). Alih-alih, kebanyakan dalam bukunya ia hanya mengungkap fakta yang ada dengan didukung banyak studi kasus dan tren statistik beberapa dekade terakhir. Ford pada akhirnya memberikan pesan bahwa jika tidak disikapi dengan arif, robotisasi akan berjalan pararel dengan kerusakan lingkungan sebagai ‘badai sempurna’, ancaman terbesar bagi umat manusia.

Ditulis oleh Yorga

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*