Raeni Dan Becak Sang Bapak

Perjuangan Raeni menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Negeri Semarang (Unnes) menjadi headline berbagai media nasional pada 2014. Dengan diantar ayahnya yang saat itu berprofesi sebagai pengayuh becak, Raeni berangkat wisuda. Dia lulus dari jurusan Pendidikan Ekonomi (Akuntansi) dengan IPK nyaris sempurna, 3,96. Dua tahun berlalu, gelar S2 di bidang International Accounting and Finance berhasil diraih perempuan kelahiran Kendal, 13 Januari 1993 itu dari University of Birmingham, Inggris. Raeni berangkat ke Inggris dengan Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI) yang didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Sebelumnya, selama menempuh program S1, dia mendapatkan beasiswa penuh Bidik Misi. “Tanpa beasiswa, mungkin saya tidak akan kuliah,” kata Raeni dalam wawancara dengan Media Keuangan dua minggu setelah kembali ke tanah air sepulangnya dari Inggris. Saat dinyatakan diterima di Unnes, Raeni juga telah diterima bekerja di sebuah perusahaan sebagai tenaga akuntansi dengan berbekal ijazah Sekolah Menengah Kejuruan. Beasiswa Bidik Misi menjaga nyala mimpinya untuk berkuliah.

Raeni tidak malu diantar wisuda dengan becak sang bapak. “Pada saat itu saya ingin memberikan inspirasi kepada para penerima beasiswa Bidik Misi lainnya untuk tidak malu dengan kondisi keluarga,” ujar Raeni. Setelah pemberitaan yang masif, Raeni diundang oleh Presiden Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. Saat itulah keinginan Raeni untuk melanjutkan studi S2 mulai menunjukkan jalan. “Presiden SBY memberikan apresiasi dan mendukung bila ingin melanjutkan pendidikan dengan skema BPRI,” katanya lagi.

Perjuangan panjang dilalui gadis Kendal itu sebelum akhirnya memulai studi di Birmingham pada September 2015. Dia mengikuti serangkaian proses seleksi LPDP, termasuk membuat leadership project yang di dalamnya mencakup kegiatan sosial di daerah Parung Panjang, Bogor. Syarat bahasa pun menjadi tantangan yang tidak mudah. Raeni harus mengikuti empat kali ujian sebelum nilainya memenuhi syarat universitas. “Sempat ada yang menyarankan agar saya menyerah saja karena kehabisan waktu untuk mengikuti tes bahasa,” kata Raeni.

Proses adaptasi

Di Birmingham, Raeni tinggal di rumah sebuah keluarga multikultural. Keluarga itu terdiri atas seorang ayah berkewarganegaraan Australia, ibu berdarah Indonesia, dan ketiga anak mereka yang dilahirkan dan tumbuh besar di Inggris. Yang menyenangkan. Raeni nyaris tak pernah menemukan kendala soal makanan di sana. “Saya sering makan rendang buatan Ibu,” kata Raeni. Keluarga angkat Raeni di Inggris sangat mendukung studinya. “Saya meminta pertimbangan kepada mereka, misalnya course apa yang perlu saya ambil dan bagaimana menyeimbangkan antara mata kuliah yang berat dan agak ringan. Supaya tidak berat semua,” ujarnya. Belajar di negeri yang asing memang menuntut Raeni untuk mampu beradaptasi. Pada masa permulaan kuliah, bahasa menjadi kendala utama. “Dosen saya mengatakan bahasa lokal saya masih sering terbawa,” ujar Raeni seraya tergelak. Di samping itu, dia juga berusaha menyesuaikan diri dengan kultur di Inggris yang tidak mengutamakan power structure dalam berinteraksi di kampus. Pola komunikasi antara dosen dan mahasiswa sangat egaliter. “Di sana power structure yang tinggi dianggap dapat mengurangi kemampuan berpikir mahasiswa,” katanya. Dalam setiap term kuliahnya, Raeni sebetulnya hanya mengambil tiga mata kuliah. Namun, tugas-tugas yang diberikan dosen biasanya sangat banyak. Di kelas, dosen juga cenderung hanya memberikan guideline. “Kita harus mengasah critical thinking sendiri. Saya sempat menginap di perpustakaan beberapa kali untuk belajar dan mengejar deadline tugas,” kata Raeni. Raeni tak puas belajar secara tekstual. Oleh karena itu, selain di dalam kelas, Raeni magang sebagai junior akuntan di College of Social Science di kampusnya. Dia ingin memahami akuntansi yang dipelajarinya langsung dalam praktek. Mata kuliah yang sangat disukai Raeni adalah Social Environmental Accounting. Menurut Raeni, mata kuliah ini sangat penting dan masa depan implementasinya di Indonesia masih sangat cerah. Dalam mata kuliah tersebut, Raeni belajar bagaimana akuntansi bukan hanya diterapkan dari sisi ekonominya saja, melainkan juga dari sisi sosial dan lingkungan. Di Indonesia, Social Environmental Accounting masih diterapkan secara terbatas pada pembukuan program corporate social responsibility. “Padahal di developed country, mereka sudah memperhitungkan, misalnya carbon taxfuel tax, dan environmental tax lainnya sebagai bagian dari akuntansi dan keuangan perusahaan,” kata Raeni. Oleh karena itu, dia sangat mendukung upaya Otoritas Jasa Keuangan yang sedang membuat roadmap untuk program sustainable finance.

Aktivitas organisasi

Selama setahun menimba ilmu di Inggris, Raeni harus pintar-pintar membagi waktu. “Saya berangkat ke kampus jam 7 pagi dan biasanya baru pulang ke rumah jam 11 malam,” ujarnya. Selain belajar di kelas dan magang, Raeni juga aktif dalam beberapa organisasi. Pertama, Raeni terpilih sebagai perwakilan mahasiswa di angkatannya. Sebagai perwakilan, Raeni harus mampu menjembatani komunikasi antara mahasiswa dan pihak kampus. Keberadaan perwakilan sangat penting untuk bisa menyelenggarakan perkuliahan yang berkualitas. Kedua, Raeni juga mendapat amanat sebagai Sekretaris di Perhimpunan Pelajar Indonesia. Yang ketiga, dia juga aktif dalam kelompok pengajian setempat sebagai humas.

Doa orang tua

Meskipun banyak kegiatan, Raeni tetap menjaga komunikasi dengan keluarga di Kendal, Jawa Tengah. Sang ayah sampai menabung agar bisa membeli gawai yang compatible untuk layanan videocall. Sebelum berangkat kuliah, Raeni selalu menyempatkan diri berpamitan dengan kedua orang tuanya lewat layanan tersebut. Perjuangan sang bapak dalam kehidupan Raeni memang luar biasa. Setelah pemberitaan tentang mereka menjadi viral, ayahnya mendapat tawaran untuk mengantarkan anak Bupati Kendal ke sekolah setiap harinya. Seiring waktu, sang ayah tak lagi mengayuh becak. Kini dia menjadi mengantarkan anak Bupati tersebut dengan menggunakan mobil. Pada malam hari, ayahnya bertugas menjadi tenaga keamanan di SMK 1 Kendal. Sementara ibunya berjualan es di sekitar Taman Pendidikan Al Quran yang berlokasi di dekat rumah mereka. Sebagai anak, Raeni mengaku belum banyak membahagiakan kedua orang tuanya. Apalagi jika mengingat segala perjuangan dan doa yang telah diberikan bapak dan ibunya. “Bapak selalu berpesan bahwa walaupun belum bisa memberikan apa-apa secara materi, tapi Bapak selalu berdoa untuk menjaga dan dengan doadoa itu Bapak membantu saya mencapai cita-cita,” ujarnya.

Harapan

Sebagai anak, Raeni berharap dapat membiayai kedua orang tuanya naik haji. Dalam segi karier, dia ingin membangun jaringan, baik di lingkungan akademik maupun masyarakat dengan aktif menjadi motivator dan relawan di dunia pendidikan. Saat ini, Raeni terdaftar sebagai dosen kontrak di Unnes dan relawan di sebuah komunitas pendidikan yang berbasis di Inggris bernama Dahuni Foundation. Raeni juga masih mengejar mimpinya untuk melanjutkan pendidikan doktoral. Setelah berhasil lulus program S2 dengan predikat distinction, Raeni bercita-cita menjadi professor di bidang social environmental accounting and finance. “Harapannya semoga saya bisa menjadi pendidik yang mendidik dengan mempertimbangkan aspek-aspek lingkungan,” kata Raeni.

Sumber: Media Keuangan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*