Anak Yang Tidak Bisa Membeli Beras Itu Kini Menempuh Studi Doktoral

Aku lahir di sebuah pulau terpencil bernama Pulau Maginti di Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara. Aku adalah anak ke-9 dari 10 bersaudara. Saat aku lahir, kondisi ekonomi keluarga dalam keadaan terpuruk. Jangankan untuk makan sehari-hari, ibuku bahkan tidak memiliki selimut untuk menghangatkan tubuhku dari dinginnya malam. Demi kenyamanan tidurku, ibu harus merelakan salah satu dari dua sarungnya untuk dipotong menjadi empat bagian sehingga tubuhku bisa terselimuti. Makanan keluargaku setiap hari adalah kasuami (makanan khas buton) yang terbuat dari penganan ubi. Kondisi ekonomi yang sedemikian terpuruknya terjadi karena ayah merantau di Ambon menjadi kuli bangunan. Karena tidak ada alat komunikasi saat itu termasuk untuk sekedar mengirim surat, kami tidak pernah tahu kabar Ayah. Lima saudaraku terpaksa berhenti sekolah karena harus membantu perekonomian keluarga agar kami bisa makan.

Di usiaku yang menjelang dua tahun aku terkena penyakit yang membuat harapan hidupku menipis tajam. Ibu pasrah kepada Yang Kuasa karena tiga saudaraku sebelumnya juga meninggal dengan penyakit yang sama. Tapi aku berhasil sembuh, dan permintaan pertama ketika aku sembuh adalah aku ingin makan bubur. Lalu apa hendak dikata, keluargaku tidak punya uang untuk membeli beras.

Ibu memang wanita terhebat. Demi memenuhi keinginanku, ibu memberanikan diri meminjam beras. Akan tetapi hasilnya nihil karena para pedagang khawatir ibu tidak bisa membayar hutang. Akhirnya ibuku pulang dengan perasaan sedih dan berdoa kepada Yang Kuasa meminta dua hal untukku, yaitu “aku berjanji suatu saat akan membeli sarung yang banyak untuk anakku, dan aku berjanji akan menyekolahkan anakku sampai pada tingkat pendidikan yang tertinggi agar dia tidak merasakan kelaparan dan sakitnya penghinaan seperti yang aku alami”

Perjalanan Pendidikan SD-SMA

Di usiaku yang 8 tahun aku mulai menempuh pendidikan dasar di SDN 1 Maginti.  Aku termasuk anak yang tidak pintar namun tidak juga bodoh. Di Kelas 1 berada di peringkat 86 dari 86 murid di kelas, kelas 2 peringkatku naik menjadi urutan ke 42. Motivasi belajarku terus naik hingga di kelas 3 aku bisa meraih juara 1 dan mempertahankannya hingga kelas 6 SD. Prestasiku di sekolah terus berlanjut hingga masuk SMP, aku menjadi juara umum sejak kelas 1 hingga kelas 3 SMP dan menjadi lulusan teladan SMPN 3 Maginti.

Setelah tamat SMP tahun 2007, aku berada diambang kebingungan karena hendak melanjutkan SMA namun terkendala masalah biaya. Akan tetapi, ibu tidak ingin aku bernasib sama seperti saudara-saudaraku. Di tengah kebingungan itu, aku bertemu dengan bapak dan ibu guru di bangku SMP yang sekarang bertugas di kota. Beliau memintaku tinggal di rumahnya dan melanjutkan studi SMA Negeri 2 Raha.

Menempuh studi SMA di kota berarti aku harus berpisah dengan ibu. Namun demi sebuah mimpi yang besar, aku bulatkan tekad untuk bisa memberikan yang terbaik demi membanggakan keluarga terutama kedua orang tuaku. Perjalanan studi SMA kulalui dengan lancar bahkan sempat mengikuti kompetisi bergengsi yaitu olimpiade kimia tingkat kabupaten dan propinsi tahun 2009 dan mendapat juara ke-3. Pada tahun 2010 aku menamatkan pendidikan SMA dengan nilai yang sangat memuaskan.

Perjuanganku Menempuh Pendidikan S1-S3

Bisa menempuh pendidikan tinggi adalah mimpi semua orang, termasuk diriku. Saat hendak memilih kampus untuk melanjutkan perguruan tinggi, ibu menangisi kepergianku bagai meratapi mayat. Tangisannya bukan karena sedih ingin berpisah, melainkan karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Selain itu, kampus yang aku pilih adalah di UNHAS Makassar yang jauh dari rumah. Aku mencoba meyakinkan ibuku bahwa aku akan berjuang di Makassar dan aku yakin bisa hidup. Dengan nada yang lirih kuucapkan padanya “Ibu jangan takut, selama di Makassar masih terdapat masjid, maka aku pasti bisa hidup”.

Aku berangkat di Makassar dengan berbekal uang seadanya. Setibaku di Makassar, aku ditawari tinggal di Masjid sekitar kampus yang kemudian menjadi tempat tinggalku selama menempuh studi S1 di jurusan perikanan Universitas Hasanuddin. Kuliah di UNHAS memerlukan biaya yang membuatku hampir putus harapan. Aku terus membayangkan bagaimana kuatnya ibu berusaha untuk bisa menyekolahkanku. Suatu saat ketika harapanku pupus, anugerah Yang Kuasa datang melalui beasiswa bidik misi. Aku diberikan beasiswa melalui WR III UNHAS setelah melihat prestasi belajarku di kursi SMA. Aku memanfaatkan peluang ini dengan belajar sebaik mungkin sehingga aku selesai tepat waktu dengan predikat cum laude. Melalui predikat ini, kementerian pendidikan tinggi (DIKTI) merekomendasikan aku untuk melanjutkan studi S2 melalui beasiswa dari lembaga pengelola dana pendidikan (LPDP). Adalah sebuah anugerah yang luar biasa untukku ketika satu persatu doa ibu terkait pendidikan yang akan kutempuh mulai terjawab. Aku segera mempersiapkan berkas untuk melamar beasiswa LPDP dan di bulan juni 2014 aku resmi diterima setelah melewati beberapa rangkaian proses seleksi. Aku mulai melanjutkan studi S2 di IPB tahun 2014 hingga 2016.

Kebahagiaanku tidak sesempurna harapanku. Saat wisuda S1 berlangsung, ibuku tidak dapat hadir karena sakit paru-paru. Aku kemudian berharap ibu diberikan kesehatan sehingga bisa mendampingiku saat wisuda S2. Tapi takdir berkata lain, di sela-sela penantian momen wisuda S2, ibu menyuruh pulang dari Bogor dan tak perlu mengikuti prosesi wisuda. Namun selain pesan itu ibu juga berkata padaku Persiapkan berkasmu, melamarlah beasiswa lanjutan untuk studi S3 mu.

Aku mengikuti nasehat ibu, mempersiapkan berkas untuk segera melamar beasiswa lanjutan. Keyakinan yang sama dengan ibu setelah doa dan usaha yang maksimal mengantarkanku pada keberhasilan meraih beasiswa lanjutan pada program doktoral ilmu pengelolaan pesisir dan lautan Institut Pertanian Bogor tahun 2017.

Kabar gembira ini kusampaikan pada ibu dan jawabannya membuatku kaget dan sedih “Nak, tugas ibu sudah selesai, doaku untuk bisa mengantarkanmu pada pendidikan tertinggi telah terkabul, maka sudah tidak ada lagi yang ibu minta. Ibu pamit.Mendengar jawaban itu, aku menangis lalu pulang ke daerah. Dan benar saja di tanggal 19 November 2016 ibuku pergi untuk selama-lamanya karena penyakit paru-paru yang dideritanya.

Ibuku memang telah tiada, namun aku yakin doa yang selama ini dipanjatkannya masih selalu menyertai perjuanganku. Kini di tahun 2018, aku telah menempuh semester 2 pada program doktoral ilmu pengelolaan pesisir dan lautan Institut Pertanian Bogor. Aku yakin dengan do’a dan usaha yang maksimal, aku bisa menyelesaikan studi tepat waktu. Usaha yang maksimal adalah melakukan segalanya dengan kemampuan terbaik yang kita miliki. Kalau kita sudah bisa melakukan dengan proses-proses terbaik, maka yakinlah akan datang hasil terbaik dari apa yang kita harapkan. Jika masih juga belum mencapai apa yang kita inginkan maka coba lagi dan jangan pernah menyerah.

Penulis: Rahman (Awardee LPDP program doktoral Institut Pertanian Bogor)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*