Anak Supir Truk Yang Mendapat Platinum Leadership Award Dari Kampus Top Amerika

Sebagai anak supir truk dan ibu pedagang nasi yang hidup da­lam garis kesederhanaan, bagi saya arti kebahagiaan adalah saat melihat orang tua menjatuhkan air mata kebanggaannya. Karena itu, sewaktu masih di Sekolah Dasar, 3 kali saya mendapat rangking 2 di kelas, 3 kali saya pulang menangis. Bukan karena merasa kalah bersaing dengan siswa lain, akan tetapi karena takut kedua orang tua tidak lagi dapat tersenyum bangga.

Masih terngiang kata-kata Ibu sebelum saya masuk S1, “Nak, ibu dan ayahmu tidak memiliki harta untuk kami wariskan kelak, tapi ibu dan ayah akan selalu berusa­ha, walau kepala ibu menjadi kaki, kaki ibu menjadi kepala untuk memperjuangkanmu menuntut ilmu. Kamu lahir dari seorang ayah yang Sekolah Dasar pun tidak lulus. Ibumu bahkan tidak pernah mengenal bagaimana bentuk bangku sekolah. Jadi perjuangan ibu dan ayah agar kamu dapat mengenyam pendidikan hingga paling ting­gi adalah satu-satunya warisan terbaik yang bisa kami berikan padamu.” Sejak itu pendidikan bagi saya bukan sekadar pemuas rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan, namun juga cara terbaik untuk memberikan sebuah pernyataan secara tidak langsung kepada Ibu. Bu, perjuanganmu tidak sia-sia.

Setelah lulus SMA, saya tidak memiliki cukup dana untuk membayar uang pendaftaran kampus. Karenanya saya mengikhlaskan diri untuk bergelut di desa sambil mengajar dan menekuni organisasi kepemudaan selama satu tahun. Di tahun berikutnya setelah masuk kuliah dan memulai masa ospek universitas, saya tidur di halte pertigaan kampus. Sedikit beruntung setelah ada yang menyediakan gerobak mie ayam sebagai tempat berteduh. Bukan karena Ibu tidak memberikan saya uang untuk tinggal di kos-kosan, hanya saja waktu itu saya tidak tega untuk meminta biaya kos. Mungkin jika saya bicara ke ibu atau ayah, beliau akan memberikan uang yang saya tidak tahu uang itu mereka dapatkan dari mana.

Dan akhirnya, perjuangan itu berbuah manis saat saya melihat Ibu mengalirkan air mata bahagia berkali-kali di acara wisuda. Saya memberikan pidato kelulusan di podium mewakili seluruh wisudawan.

Perjuangan S2

Motivasi dan ketertarikan saya dalam bidang pendidikan menuntun saya untuk mendaftar beasiswa LPDP. Dengan berbagai keterbatasan waktu maupun biaya, saya mem­persiapkan beasiswa luar negeri ini dengan maksimal dan teliti. Saya juga harus merelakan menjual beberapa barang saya agar bisa memiliki modal untuk belajar bahasa Inggris. Dengan bermodalkan restu orang tua, dukungan dari sahabat, dosen serta pimpinan kampus saya pun me­mantapkan diri untuk mendaftar. Akhirnya, di awal tahun 2016, saya dinyatakan lo­los sebagai penerima beasiswa LPDP dengan negara tujuan Amerika Ser­ikat.

Sebulan sebelum saya menginjakkan kaki di Negeri Paman Sam, tepatnya 4 November 2016, saya membulatkan tekad untuk melangsungkan akad nikah dengan seorang gadis bernama Shinta Nurissyima. Banyak orang bertanya-tanya, belum juga kerja, sudah mau nikahi anaknya orang. Sebuah ungkapan pedas, namun benar adanya. Saya sama sekali tidak tersinggung oleh mereka yang berkata demikian. Banyak juga yang bertanya, “Kamu mau lamar pakai apa?” Saya jawab dengan tenang, “Akan aku lamar dia dengan beasiswa LPDP”. Sontak hal ini menjadi gelak tawa orang-orang. Ya, memang begitulah adanya.

Tiga hari setelah diterima beasiswa LPDP, saya seorang diri datang kerumah Shinta dengan tujuan untuk melamarnya. Sebuah kelakuan konyol yang jarang ditemui di Madura, karena lazimnya orang melamar di sini, datang bersama dengan pihak keluarga. Di malam itu, hanya dengan berbekal LPDP, saya menyampaikan niat tulus untuk meminang Shinta. Sebelumnya, telah ada beberapa lelaki yang datang untuk melamar gadis ini, baik yang berpangkat Letnan, Hakim Muda, serta Jaksa. Namun kedatangan saya di malam itu menjadi penutup kedatangan pemuda-pemuda lainnya.

Saya membawa isteri ke Amerika untuk bersama-sama berjuang melewati masa-masa awal pernikahan. Tidak lama setelah memulai perkuliahan, saya mendapatkan email dari kampus yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi kandidat summerprogram di Kroasia, Eropa. Mata saya berkaca-kaca karena menginjakkan kaki di Eropa adalah mimpi sejak kecil. Perasaan tidak sabar untuk menyelesaikan semester pertamapun muncul saat itu.

Kejutan tidak henti-hentinya mendatangiku. Beberapa saat setelahnya, istri membangunkan saya dengan riang dan perlahan dia menyampaikan, “Adek positif, kita akan punya bayi, kita akan jadi orang tua”. Sungguh sebuah kabar yang luar biasa membuat saya bahagia. Esoknya pun kami mendatangi dokter untuk mengetahui kepastiannya, dan dokter menyampaikan hasil yang sama, “Congratulation, you are gonna be a father, and the due date of your baby should be on May 15”. Hal ini bukan hanya kabar gembira kedua di bulan yang sama, akan tetapi saya juga harus membuat sebuah keputusan penting. Memilih menjaga istri atau meninggalkan istri ke Eropa dalam kondisi hamil. Sebuah pilihan berat, namun gampang untuk diputuskan. Saya memutuskan untuk menunda mimpi melintasi batas benua Eropa. Saya yakin, suatu saat batas benua itu akan tetap saya lintasi.

Leadership Award dari Universitas Michigan

Pada bulan April 2017, saya mendapatkan email yang menyatakan bahwa saya lolos sebagai nominee pada pada 16th Annual Student Leadership Award Michigan State University. Saya masuk kategori The Spartan Leadership Certified Certificate, sebuah penghargaan yang menyoroti keterlibatan mahasiswa dalam pengalaman pengembangan kepemimpinan di dalam dan luar kampus Michigan State University. Penghargaan ini memiliki tiga tingkatan, yaitu, BronzeGold, dan Platinum. Penerima penghargaan akan diumumkan di salah satu hotel di East Lansing, Amerika Serikat pada tanggal 19 April 2017. Rasa senang dan bimbang pun bercampur aduk karena ini adalah pengalaman untuk kali pertama mengikuti penghargaan tingkat internasional yang harus bersaing dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai negara.

Saya datang menghadiri momen pemberian penghargaan bersama istri. Nampak sebuah acara yang megah dan bergengsi, dengan nominee terdiri dari mahasiswa di semua tingkatan, staff, dosen, sampai veteran pun hadir sebagai nominee di kategori masing-masing. Satu persatu nama penerima penghargaan dipanggil. Namun, hingga menjelang akhir acara, nama saya tidak kunjung disebutkan. Saya beserta istri mengira tidak mendapatkan award.

Dan kejutan besar itu pun datang. Pada sambutan terakhir, nama saya disebutkan sebagai satu-satunya peraih Platinum Certified Certificate! Rasa bangga, senang, dan haru bercampur aduk dalam hati saya, terlebih karena nama Indonesia juga disertakan saat saya dipanggil ke depan.

Terakhir, keyakinan dan mimpi yang diterus diperjuangkan memang tidak pernah mengecewakan. Pada bulan Januari 2018, mimpi saya untuk bisa menapakkan kaki di benua Eropa yang sempat tertunda pun kembali menjadi nyata. Di bulan Maret 2018, saya diundang untuk mempresentasikan paper saya di salah satu konferensi internasional di Eropa.

Tidak peduli siapa kita di masa lalu, kita memiliki kesempatan yang sama untuk membentuk masa depan kita sendiri.

 

Penulis: Dodik Wijaya Pranata (Awardee LPDP Program Magister di Michigan State University, Amerika Serikat)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*