Menyusui adalah Pond(ASI) Kehidupan

Menyusui merupakan suatu proses alamiah yang dilakukan oleh para perempuan. Menyusui bukan sekadar memberikan nutrisi kepada buah hati, namun juga ada proses kelekatan antara orangtua dan anak yang juga bermanfaat bagi perkembangan psikologis anak. Badan kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) merekomendasikan pemberian Air Susu Ibu (ASI) saja sejak lahir hingga usia 6 bulan, kemudian ditambahkan dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI) mulai usia 6 bulan dan terus menyusui hingga berusia 2 tahun atau lebih. Manfaat menyusui bagi kesehatan ibu antara lain menurunkan risiko kanker payudara, menurunkan risiko kanker ovarium dan masih banyak lagi (Harmon, 2010; Martin, 2017). Sedangkan bayi yang tidak disusui akan meningkatkan risiko terhadap kejadian Sudden Infant Death Syndrome (SIDS), infeksi saluran cerna, saluran napas, saluran telinga, maloklusi gigi, overweight dan obesitas (Australian Breastfeeding Association, 2017).

Dengan pentingnya manfaat menyusui bagi kesehatan ibu dan anak, serta pentingnya dukungan untuk menyusui, maka setiap tanggal 1-7 Agustus diperingati sebagai Pekan Menyusui Sedunia atau World Breastfeeding Week. Tema tahun ini adalah Breastfeeding: Foundation of Life, dengan sub tema: 1) Pencegahan malnutrisi dalam berbagai bentuk; 2) Jaminan keamanan pangan, bahkan pada masa krisis; serta 3) Pemutusan siklus kemiskinan.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan jumlah penduduk terbanyak ke empat di dunia. Indonesia memiliki berbagai masalah kesehatan, antara lain tingginya angka kesakitan dan kematian bayi dan balita, angka kesakitan dan kematian ibu hamil dan melahirkan. Negara ini memiliki masalah gizi ganda (double burden); ada masyarakatnya yang mengalami gizi buruk, namun ada pula yang mengalami obesitas. Dengan menyusui, bayi akan mencapai status gizi optimal sejak lahir. Selain itu, menyusui selalu tersedia kapan saja, bahkan dalam masa krisis sekalipun. Dengan menyusui, bayi akan mendapatkan awal kehidupan yang optimal dan meningkatkan IQ serta mencapai hasil pendidikan yang lebih baik dibanding bayi yang tidak disusui (Kramer et al., 2008).

Sesuai Deklarasi Hak Anak yang dikeluarkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), semua anak berhak mencapai status kesehatan dan perkembangan yang optimal, salah satunya dengan cara mendapatkan nutrisi yang adekuat (United Nations, 1959). Standar nutrisi terbaik bagi bayi adalah air susu ibu (ASI). Sedangkan dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia yang dikeluarkan oleh PBB, semua manusia memiliki hak untuk mendapatkan standar kehidupan yang layak, salah satunya dalam mencapai status kesehatan yang optimal (United Nations, 1948). Perempuan berhak membuat keputusan terbaik dalam memberikan nutrisi terbaik bagi buah hatinya, begitu pula untuk kesehatan dirinya. Namun demikian, dalam membuat keputusan, perempuan dipengaruhi beberapa faktor, antara lain faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal antara lain motivasi, pengetahuan, pengalaman masa lalu, dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal antara lain dukungan suami, keluarga dekat, tempat kerja dan pemerintah. Salah satu contoh kasus apabila seorang perempuan telah memiliki niat untuk menyusui anaknya, namun jika tempat kerja tidak mempunyai kebijakan terkait ibu pekerja yang masih menyusui, sehingga akan ada konsekuensi pemotongan insentif (atau semacamnya) bila meminta waktu untuk memerah ASI. Padahal untuk menjaga keberlangsungan menyusui, saat berpisah dengan anak, ibu harus memerah ASI secara rutin. Bila ibu tidak memerah ASI secara rutin, payudara akan bengkak dan menimbulkan masalah kesehatan, misalnya abses dan mastitis, dan pada akhirnya akan menurunkan produksi ASI.

Banyak ibu masih belum mengetahui prinsip produksi ASI, sehingga mengakibatkan persepsi yang salah akan kemampuan dirinya untuk menyusui. Pada kehamilan trimester kedua, ASI telah mulai diproduksi di payudara, dan baru akan dikeluarkan sesaat setelah plasenta keluar. Yang artinya normalnya ASI baru akan keluar setelah bayi dan plasenta lahir. Pada hari ke 0 sampai ke tiga, ASI yang keluar masih berwarna kuning dan kental, biasa disebut kolostrum. Cairan ini merupakan cairan emas, yang artinya sangat bermanfaat bagi imunitas bayi baru lahir. Prinsip produksi ASI adalah semakin banyak ASI yang dikeluarkan (dengan dihisap oleh bayi ataupun diperah saat terpisah dari bayi), semakin banyak produksinya. Setiap sesi menyusui, ada dua hormon yang bekerja, yaitu hormon prolaktin dan hormon oksitosin. Saat bayi menghisap payudara, rangsangan hisapan tersebut diterima oleh otak dan hormon prolaktin secara otomatis akan segera memproduksi ASI lagi. Hal ini terjadi secara otomatis, begitu ada ASI yang dikeluarkan. Sehingga bila ingin produksi ASI banyak, caranya cukup mudah, yaitu persering menyusui bayi dan/atau memerah ASI. Sedangkan untuk kelancaran keluarnya ASI dari sel ASI menuju ke puting adalah peran dari hormon oksitosin. Hormon ini dipengaruhi oleh psikologis ibu. Bila ibu merasa stres, tertekan, marah dan segala emosi negatif lainnya, maka ASI akan terhambat untuk keluar.

Kurangnya informasi yang benar tentang proses produksi ASI, membuat para ibu merasa tidak percaya diri, apalagi dengan banyaknya mitos yang salah yang beredar di masyarakat. Selain itu praktik marketing produk pengganti ASI yang tidak etis juga membuat ibu tidak percaya diri. WHO telah mengeluarkan Kode Internasional Pemasaran Produk Pengganti ASI (selanjutnya disingkat Kode) untuk mengatur praktik pemasaran produk yang dianggap menghambat keberhasilan menyusui (World Health Organization, 1989). Salah satu contoh praktik marketing yang tidak etis adalah bekerja sama dengan tenaga dan/atau fasilitas kesehatan dalam memasarkan produknya, memberikan sampel gratis pada ibu yang baru melahirkan, pendanaan seminar tenaga kesehatan dan sebagainya (Barennes, Slesak, Goyet, Aaron, & Srour, 2016; Hidayana, Februhartanty, & Parady, 2017).

Mengingat pentingnya peran fasiltas kesehatan dalam keberhasilan menyusui, terutama di hari awal pasca melahirkan (World Health Organization, Division of Child Health and Development, 1998), WHO dan UNICEF mengeluarkan kebijakan Ten Steps to Successful Breastfeeding atau dalam Bahasa Indonesia disebut 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (selanjutnya disingkat 10 LMKM).

  1. Membuat kebijakan tertulis tentang menyusui dan dikomunikasikan kepada semua staf pelayanan kesehatan. Artinya fasilitas kesehatan (selanjutnya disingkat faskes) wajib menyusun kebijakan secara tertulis, tidak bisa hanya secara lisan saja. Artinya kita sebagai konsumen bisa melihat kebijakan tersebut secara jelas. Setelah kebijakan tersebut disusun, faskes wajib mensosialisasikan kepada semua staf di faskes tersebut. Ini artinya semua staf pelayanan kesehatan wajib memahami apa isi kebijakan tersebut
  2. Melatih semua staf pelayanan dalam ketrampilan menerapkan kebijakan menyusui tersebut. Ini artinya faskes wajib memberikan pelatihan kepada semua staf pelayanan sehingga semua staf seperti bidan, perawat, dokter, bahkan petugas customer service paham dan mampu menerapkan kebijakan menyusui sesuai kapasitasnya masing-masing.
  3. Menginformasikan kepada semua ibu hamil tentang manfaat dan manajemen menyusui. Ini artinya faskes wajib memberikan informasi yang valid dan independen (tidak terpengaruh oleh pihak manapun) kepada semua ibu hamil. Contohnya, seorang ibu hamil saat memeriksakan kehamilannya di sebuah rumah sakit, diberi informasi bahwa saat nanti menyusui anaknya, ibu tidak wajib minum susu ibu menyusui. Namun jika rumah sakit bekerja sama dengan perusahaan susu ibu hamil dan/atau susu menyusui, maka bisa saja rumah sakit memberi informasi yang sebaliknya, bahwa ibu menyusui wajib minum susu hamil dan menyusui.
  4. Membantu ibu menyusui dini dalam waktu 60 menit pertama persalinan. Artinya faskes wajib melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dalam waktu 60 menit. Tentu saja jika kondisi ibu dan bayi memungkinkan. Ini berarti faskes wajib melaksanakan IMD tanpa melihat status pendanaan (apakah pasien BPJS, pasien asuransi atau pasien umum), tanpa melihat kelas perawatan (kelas 1, 2, atau 3).
  5. Membantu ibu cara menyusui dan mempertahankan menyusui meskipun ibu dipisah dari bayinya. Artinya faskes wajib membantu semua ibu untuk menyusui bayinya, dan ketika bayi butuh penanganan medis lanjutan sehingga terpisah dari ibunya, faskes wajib membantu ibu untuk bisa mempertahankan menyusui. Misal pada kasus bayi newborn yang perlu difototerapi karena angka bilirubin yang tinggi, biasanya akan terpisah dari ibunya. Faskes wajib memberikan bantuan agar ibu dapat terus menyusui anaknya meski terpisah, contohnya dengan mengajarkan ibu cara memerah ASI dan memberikan ASI perah tersebut kepada bayinya dengan menggunakan media selain dot.
  6. Memberikan ASI saja kepada bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis. Artinya faskes wajib memberikan ASI saja kepada bayi baru lahir, kecuali ada indikasi medis yang ditentukan oleh dokter berdasarkan pemeriksaan yang menyeluruh.
  7. Menerapkan rawat gabung ibu dengan bayinya sepanjang waktu 24 jam. Artinya faskes wajib melaksanakan perawatan bayi bergabung dengan kamar rawat inap ibunya sepanjang 24 jam selama ibu berada di bawah perawatan faskes. Pada kenyataannya, masih banyak RS yang tidak mengijinkan atau hanya mengijinkan rawat gabung apabila ibu memilih kamar perawatan kelas 1 atau di atasnya. Sehingga ibu yang memilih kamar perawatan kelas 2 atau 3 tidak bisa melakukan rawat gabung.
  8. Menganjurkan menyusui sesuai permintaan bayi. Prinsip menyusui yang benar adalah breastfeeding on demand, sesuai permintaan bayi, kapan dan berapa lama. Jadi prinsip menyusui yang dijadwalkan adalah tidak benar.
  9. Tidak memberi dot dan empeng kepada bayi. Ini artinya meskipun bayi terpisah dari ibunya, misalnya untuk fototerapi, pemberian ASI perah tidak dianjurkan menggunakan dot.
  10. Mendorong pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu kepada kelompok tersebut setelah keluar dari fasilitas pelayanan kesehatan. Artinya faskes seharusnya membentuk kelompok pendukung menyusui, sehingga ibu setelah melahirkan dan setelah diijinkan untuk pulang, dapat bergabung dengan kelompok tersebut untuk berbagi ilmu dan pengalaman terkait menyusui.

 

Perempuan Indonesia berhak mendapatkan informasi yang benar dan bebas dari konflik kepentingan, artinya diberikan oleh pihak yang berkompeten dan tidak memiliki tujuan lain dalam memberikan edukasi, misalnya menjual produk tertentu yang seakan-akan mendukung menyusui, padahal sebenarnya tidak. Menyusui merupakan peran alamiah perempuan, namun perlu dipelajari dan perlu didukung oleh semua pihak. Menyusui juga merupakan investasi bangsa serta pondasi awal kehidupan yang optimal bagi semua anak.

 

Biodata Penulis

Andini Yulina Pramono, awardee LPDP dengan angkatan PK 113, merupakan konsultan rumah sakit yang juga konsultan laktasi bersertifikat internasional (International Board Certified Lactation Consultant/IBCLC). Saat ini penulis merupakan PhD Candidate di Health Services Research and Policy Department, Research School of Population Health, The Australian National University.

 

 

Referensi

Australian Breastfeeding Association. (2017). Health outcomes associated with infant feeding. Retrieved from https://www.breastfeeding.asn.au/bfinfo/health-outcomes-associated-infant-feeding

Barennes, H., Slesak, G., Goyet, S., Aaron, P., & Srour, L. M. (2016). Enforcing the International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes for Better Promotion of Exclusive Breastfeeding: Can Lessons Be Learned? J Hum Lact, 32(1), 20-27. doi:10.1177/0890334415607816

Harmon, K. (2010). How Breastfeeding Benefits Mothers’ Health. Retrieved from https://www.scientificamerican.com/article/breastfeeding-benefits-mothers/

Hidayana, I., Februhartanty, J., & Parady, V. A. (2017). Violations of the International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes: Indonesia context. Public Health Nutrition, 20(1), 165-173. doi:10.1017/S1368980016001567

Kramer, M. S., Aboud, F., Mironova, E., Vanilovich, I., Platt, R. W., Matush, L., . . . Shapiro, S. (2008). Breastfeeding and child cognitive development: new evidence from a large randomized trial. Arch Gen Psychiatry, 65(5), 578-584. doi:10.1001/archpsyc.65.5.578

Martin, R. D. (2017). The Benefits of Breastfeeding…for Mothers. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/au/blog/how-we-do-it/201703/the-benefits-breastfeedingfor-mothers

United Nations. (1948). Universal Declaration of Human Rights. Retrieved from http://www.un.org/en/universal-declaration-human-rights/

United Nations. (1959). Declaration of the Rights of the Child. Retrieved from http://www.un.org/en/ga/search/view_doc.asp?symbol=A/RES/1386%20(XIV)

World Health Organization. (1989). International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes.

World Health Organization, Division of Child Health and Development. (1998). Evidence for the Ten Steps to Successful Breastfeeding. In. Retrieved from http://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/43633/9241591544_eng.pdf;jsessionid=9DC3F0ACED9CD4F952C4FEDC3C05B445?sequence=1

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*