Perjuangan Panjang Putra Farmasi Indonesia

If life gives you lemons, make lemonade. Begitulah pepatah mengatakan, jika kehidupan memberikanmu lemon, rubahlah ia menjadi jus lemon yang manis. Kehidupan ialah sebuah perjuangan. Saya percaya bahwa segala bentuk ujian dan rintangan yang kita lalui, hanyalah cara yang Maha Kuasa untuk mempersiapkan kita menjadi manusia yang madani.

Perkenalkan, nama saya adalah Rahmat Hidayat. Saya anak ketujuh dari tujuh bersaudara. Sejak usia empat puluh hari, saya dirawat oleh nenek, karena ibu harus bekerja. Keputusan itu bukan tidak beralasan. Saat itu, ibu harus memainkan dua peran sekaligus dalam keluarga. Tidak hanya sebagai ibu, namun juga sebagai ayah yang mencari nafkah bagi keluarga kami.

Dua belas tahun berselang, akhirnya saya dapat tinggal bersama beliau karena saya diyakini telah bisa mengurus diri sendiri. Saat itu, ibuku adalah seorang karyawan rumah makan Padang. Setiap harinya ia meninggalkan rumah jam 4 di pagi hari dan kembali pada pukul 9 pada mama harinya. Saya belum mengetahui besarnya kasih ibu hingga suatu hari saya meminta ikut dengannya ke tempat beliau bekerja. Untuk pertama kalinya saya menghabiskan waktu bersamanya. Sebagai karyawati, ibuku bertugas menyiapkan semua bumbu masak yang diperlukan untuk menyiapkan hidangan di rumah makan itu. Beliau berlari kesana sini, “berkecimpung” dengan alu dan lesung batu dan mengaduk wajan berukuran satu meter. Terdengar sederhana, namun hari itu saya menyaksikan dan mulai memahami alasannya meninggalkanku, bahkan saat aku memerlukan ASI darinya. Karena dia mencintaiku dan menginginkan kehidupan yang layak bagiku. Hari itu saya berikrar pada diri sendiri, bahwa saya tidak akan memberitakan kabar padanya, kecuali berita suka.

Tiba waktunya saya menerima rapor semester pertama Sekolah Menengah Pertama. Bapak Kepala Sekolah mengumumkan para bintang kelas. Satu persatu teman-teman maju ke depan dan berbaris dengan rapi. Saya dipenuhi perasaan sedih dan gusar karena saya belum mendengar namaku disebutkan. Namun, airmataku tidak dapat kubendung saat bapak kepala sekolah mengumumkan namaku sebagai juara umum dan memintaku untuk berdiri di panggung yang lebih tinggi. Ini adalah hadiah pertama untuk ibuku. Saya sangat bahagia karena meskipun saat ini beliau tidak dapat hadir, namanya menggelegar ke seluruh lapangan atas hasil belajarku hari ini. Hasil belajar yang baik saya pertahankan hingga Sekolah Menengah Atas.

Saat masa pendaftaran perguruan tinggi, saya mendapatkan pengalaman yang sangat mengesankan. Saya harus mengurungkan niat untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Saya yang sejak kecil bercita-cita sebagai peneliti, saat itu telah berhasil mendapatan satu buah kursi di Fakultas Farmasi, Universitas Andalas, namun terbatasnya finansial membuatku hampir berhenti bermimpi. Namun saya merasakan bahwa saya akan kehilangan keajaiban jika saya menyerah saat itu. Saat hari pendaftaran tiba, saya memutuskan untuk pergi ke kampus, berharap tangan ilahi merangkulku hari itu. Benar saja, lembaran baruku akhirnya dapat dibuka. Saat pendaftaran berlangsung, wawancara beasiswa bidikmisi sedang dilaksanakan di gedung rektorat. Dengan semangat membara saya memasuki ruangan itu dan dipertemukan dengan wakil rektor. Di waktu sore hari itu, saya seperti disambar petir. Betapa saya tidak kuasa menginjak tanah saat nama saya tertera pada angka 25 dari 300 nama yang ada dalam pengumuman.

Malam harinya terjadi peristiwa yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya tidak menyangka reaksi ibu mengubah banyak hal. Betapa bahagianya ibu saat berita gembira itu sampai di telinganya. Saya merasakan hangatnya pelukan ibu. Namun betapa terkejutnya saya dengan apa yang disampaikannya saat melepaskan pelukannya yang dari dulu saya rindukan. Ibu memutuskan untuk pindah ke Jakarta, mencari usaha baru untuk menopang keperluan tambahan saya selama di kampus nanti. Ibu akan berjualan ketupat sayur dan sate padang disana. Saya tidak dapat menahannya, saya hanya mampu memeluknya kembali dan tenggelam didalamnya.

Perkuliahan telah dimulai, dan saya menjalani hari-hari penuh semangat pengharapan. Saya percaya bahwa langkah pertama untuk dapat menuai keberhasilan, ialah dengan menanamnya. Saya belajar dengan semangat dan penuh kesungguhan. Alhasil, saya berhasil mendapatkan indeks prestasi tertinggi di antara teman-teman satu jurusan. Kabar ini segera saya utarakan kepada ibu melalui pesawat telepon. Saya mendengar tangis haru yang menggema diujung yang lain. Tangisan itu membuat energi saya seperti diisi ulang. Saya kembali berikrar untuk mempersiapkan kabar baik berikutnya.

Saya mulai bersenyawa dengan kehidupan kampus. Berbagai kegiatan positif saya ikuti dalam rangka meningkatkan softskilldan keterampilan. Pada tahun 2012, saya bersama rekan-rekan mahasiswa mendirikan organisasi berbasis asuhan kefarmasian. Organisasi yang bernama NSAID (New Society of Andalas Pharmacy Students for Education and Information about Drugs) ini saya gunakan untuk mengembangkan diri dan berkontribusi kepada masyarakat. Pada banyak kegiatan sosial kesehatan, saya berperan sebagai Pharmacy counselor di baris terdepan  terutama dalam memberikan edukasi penggunaan obat yang rasional. Saya terus mengembangkan diri, bergabung dengan klub-klub berbahasa Inggris, mengikuti lomba debat, memenangkan esai terbaik KKN dan dan mendapatkan predikat Best Achievement on English for Academic Purpose oleh Pusat Bahasa Universitas Andalas.

Setiap tahunnya komite mahasiswa mengadakan pemilihan mahasiswa farmasi terbaik (Best Pharmacy Student Award). Ajang ini bertujuan untuk mencari mahasiswa yang tidak hanya unggul di bidang akademik, tapi juga kemampuan interpersonal dan talenta. Saya melihat kesempatan yang baik dalam kompetesi ini dan mencalonkan diri sebagai peserta. Tahun 2013, kompetisi ini diikuti oleh puluhan mahasiswa yang berbakat. Namun saya tidak patah arang. Presentasi yang berjudul “The Role of Pharmacist to Constraint Chronic Diseases” membawa saya masuk kedalam sepuluh besar. Selanjutnya dinyatakan lanjut ke tahap Grand Final setelah menampilkan permainan piano yang saya latih secara otodidak. Pada akhirnya, tiga nama teratas ditentukan. Dengan perasaan sangat bahagia dan haru, saya sangat ternganga saat nama saya disebutkan sebagai “The Best Pharmacy Student (BPS)” dan “Pharmacy Favorite Student”.

Pertempuran masih terus berlanjut. Sebagai hadiah atas penghargaan BPS, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pertukaran pelajar di University of Science, Malaysia. Saya berpeluang untuk melakukan penelitian pengembangan obat baru berupa studi in-vivo melalui pembedahan terhadap tikus. Namun, disisi lain, Surat Keputusan Dekan menyatakan bahwa saya akan mewakili Universitas Andalas dalam Olimpiade Farmasi Indonesia (OFI) yang akan digelar beberapa minggu lagi, bertepatan dengan program pertukaran pelajar yang akan saya ikuti. Harapan pimpinan jurusan dan keinginan untuk belajar di negeri orang bertukar silih berganti dalam fikiran saya. Saya menyadari bahwa kedua pilihan yang ada sama pentingnya. Kebijaksanaan saya dalam mengambil keputusan sedang diuji. Saya terus berfikir hingga sampai pada satu keputusan final. Saya akan mengikuti pertukaran pelajar dan kembali selama OFI berlangsung.

Saya menyadari bahwa keputusan yang telah saya ambil sangat beresiko, karena saya harus mendapatkan hasil yang maksimal dan terbaik pada kedua sisi pilihan. Dengan penuh antusias, saya mengikuti berbagai kelas di Universitas of Science, Malaysia hingga siang hari. Setelah itu saya memasuki laboratorium farmakologi untuk melakukan studi in-vivo seperti yang telah direncanakan. Pada penelitian ini saya bekerjasama dengan mahasiswa Master dari Pakistan dan Inggris untuk melakukan pembedahan dengan proses kanulasi pada tikus hipertensi untuk melihat efektivitas penggunaan obat baru. Pada malam harinya, saya kembali ke apartemen untuk kembali belajar untuk persiapan olimpiade. Hari-hari yang padat saya lalui dengan optimis. Di dalam beberapa kelas, saya berhasil menarik perhatian profesor karena mampu menyelesaikan kasus kasus kefarmasian.

Hari diselesenggarakannya olimpiade tinggal dua hari lagi. Sudah saatnya saya kembali ke Indonesia dan bergabung bersama peserta yang lain di karantina. Setelah mendapatkan izin dari Bagian Akademik University of Science, Malaysia, saya bertolak ke Padang, tempat olimpiade dilaksanakan. Olimpiade ini diikuti oleh ratusan mahasiswa farmasi dari puluhan universitas terkemuka se-Indonesia. Olimpiade berlangsung menegangkan. Satu persatu peserta gugur. Saya sangat bersyukur dapat masuk ke tahap berikutnya dengan 9 semifinalis lainnya. Perlombaan sampai di bagian akhir, dan tiba pada bagian yang mendebarkan, yaitu pembacaan hasil lomba. Dua kategori telah dibacakan, namun nama saya tidak jua menggema. Pada akhir pengumuman, betapa kakunya saya saat pimpinan olimpiade farmasi Indonesia menyebut nama saya memenangkan kategori ketiga. Saya terpilih sebagai Putra Farmasi Indonesia. Seusai acara, saya segera menuju rumah, namun saya “lupa”, ibu tidak disana. Saya segera mengambil telepon dan mencari kontak beliau. Kami menangis bersama penuh haru saat beliau mengucap syukur bahwa saya berhasil membawa pulang piala itu. Meskipun beliau belum bisa menyentuhnya.

Saya kembali ke University of Science, Malaysia dengan sangat bahagia. Keesokan harinya saat kelas pertama dimulai, saya sangat terkejut saat dekan fakultas farmasi kampus itu memanggil saya. Saya dipenuhi rasa khawatir. Namun, setelah saya memasuki ruangan, rasa haru kembali menyelimuti saya saat saya. Alih-alih merasa takut, saya merasa sangat senang karena mendapatkan ucapan selamat darinya.

Setahun kemudian, penelitian yang saya lakukan di Malaysia menjadi dasar penelitian selanjutnya. Studi yang saya gagas bersama pembimbing tugas akhir saya membuahkan hasil. Penelitian yang berjudul “Blood pressure lowering effect of scopoletin on oxidative stress hypertension” berhasil dipublikasikan dan dipresentasikan pada seminar nasional (2015) dan konferensi internasional di China dan Pakistan (2016).

Perjalanan mimpi saya menjadi peneliti sudah dimulai. Tahun 2017, saya kembali memperjuangkan cita cita mulia ini melalui seleksi beasiswa LPDP. Setelah melakukan persiapan yang seksama, meliputi TOEFL iBT, GRE dan serangkaian tahapan tes lainnya. Saya berhasil dinyatakan lolos seleksi substansi LPDP dengan tujuan University of Alberta, Canada. Saya berharap, dengan melanjutkan kuliah saya dapat berpeluang membahagiakan ibu dan berkontribusi bagi perkembangan obat baru. Saya percaya, jika rintangan datang menghadang, saya dapat melaluinya selama saya percaya bahwa Tuhan YME sedang memersiapkan saya menjadi manusia yang madani.

Penulis: Rahmat Hidayat (Awardee LPDP Program Magister di University of Alberta, Canada)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*